KPA Kota Kupang Perkuat Edukasi dan Kolaborasi Tekan Kasus HIV/AIDS

  • 16 Mar 2026 08:19 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Kupang terus memperkuat strategi pencegahan guna menekan lonjakan kasus HIV/AIDS yang masih menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Sekretaris KPA Kota Kupang, Julius T. Bore atau yang lebih akrab disapa Jems Bore saat diwawancarai di Pro 1 RRI Kupang Senin, 16 Maret 2026 mengungkapkan bahwa jumlah kasus baru HIV/AIDS di Kota Kupang tercatat mencapai lebih dari 200 kasus setiap tahun dalam tiga tahun terakhir. Secara akumulatif, hingga Desember 2025 jumlah kasus positif HIV/AIDS di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut telah mencapai 2.595 kasus.

Menurutnya, perilaku berganti-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan pengaman masih menjadi faktor dominan yang memicu tingginya angka penularan HIV di tengah masyarakat. Kondisi tersebut diperparah dengan rendahnya kesadaran masyarakat mengenai risiko infeksi menular seksual.

“Selain itu, kami juga mulai menemukan adanya praktik prostitusi terselubung yang bahkan sudah menjangkau kalangan pelajar di tingkat pendidikan menengah,” ujar Jems Bore

Jems mengatakan, data KPA Kota Kupang juga menunjukkan bahwa kelompok usia produktif 24 hingga 49 tahun menjadi kelompok yang paling banyak terinfeksi HIV. Persentase penderita laki-laki tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Ironisnya, kelompok ibu rumah tangga menempati posisi kedua tertinggi sebagai penderita HIV/AIDS. Hal ini diduga kuat akibat perilaku suami yang melakukan hubungan seksual berisiko di luar rumah tanpa diketahui pasangan.

Dia menambahkan, untuk menekan angka penularan, KPA Kota Kupang kini menggalakkan program edukasi secara masif melalui kerja sama dengan sekolah, perguruan tinggi, serta berbagai komunitas keagamaan. Langkah ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya dan cara pencegahan HIV/AIDS sejak usia dini.

KPA menurut Jems, juga menggandeng 51 lurah di seluruh wilayah Kota Kupang untuk memastikan setiap kegiatan masyarakat dapat disisipi materi sosialisasi mengenai pencegahan HIV/AIDS secara berkelanjutan.

Salah satu inovasi yang dijalankan adalah pembentukan pendidik sebaya di tingkat sekolah menengah. Program ini diharapkan dapat menjadikan para siswa sebagai duta informasi bagi teman-teman mereka dalam menghindari pergaulan bebas maupun praktik prostitusi.

“Melalui pendekatan teman sebaya, siswa bisa saling mengingatkan dan menjadi tempat berbagi cerita yang aman bagi rekan mereka yang sedang menghadapi tekanan lingkungan sosial,” jelasnya.

Selain edukasi, pemerintah juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan secara berkala setiap tiga bulan bagi kelompok populasi kunci. Pemerintah turut mendistribusikan obat pencegah HIV secara gratis guna menekan risiko penularan di lokasi-lokasi berisiko.

Upaya penjangkauan saat ini juga mulai diarahkan pada tempat-tempat terselubung seperti rumah kos dan penginapan yang diduga kerap dijadikan lokasi transaksi seksual secara sembunyi-sembunyi.

James Bore menegaskan bahwa peran keluarga sangat penting dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS, khususnya melalui pengawasan terhadap penggunaan gawai oleh anak-anak.

“Orang tua perlu mengawasi penggunaan media sosial anak agar tidak terpapar konten pornografi atau praktik prostitusi daring yang saat ini semakin mudah diakses,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat yang merasa memiliki perilaku berisiko untuk segera melakukan tes kesehatan di puskesmas atau rumah sakit terdekat. Pasalnya, infeksi HIV sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

“Pemeriksaan sejak dini merupakan langkah penting untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang terdekat dari risiko penularan,” katanya menegaskan. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....