Deteksi Dini Kunci Tekan Kanker Serviks

  • 05 Feb 2026 15:08 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Deteksi dini menjadi kunci utama dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat kanker serviks pada perempuan. Penyakit yang juga dikenal sebagai kanker leher rahim ini masih menjadi ancaman serius karena sebagian besar kasus ditemukan ketika sudah memasuki stadium lanjut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Maria Elisabeth Anggreini, S.Farm., Apt, MPH, mengatakan kanker serviks menempati peringkat keempat penyebab kesakitan perempuan di dunia dan peringkat kedua di Indonesia setelah kanker payudara. “Yang menjadi tantangan besar adalah sekitar 70 persen perempuan yang menjalani skrining justru sudah berada pada kondisi yang berat. Ini berdampak langsung pada tingginya angka kematian,” kata Maria.

Ia menegaskan, pemerintah telah menindaklanjuti target global WHO untuk eliminasi kanker serviks melalui Rencana Umum Eliminasi Kanker Serviks tahun 2023–2030. Program ini dilaksanakan secara komprehensif, mulai dari promotif, preventif, kuratif, hingga paliatif.

Upaya deteksi dini dilakukan melalui skrining kanker serviks dengan pemeriksaan IVA, Pap Smear, maupun HPV DNA. Sasaran utama skrining adalah perempuan yang sudah menikah atau pernah melakukan hubungan seksual.

Sementara itu, dr. Lambertus Bambang Tokan, M.Biomed, SpOG, Staf SMF Obstetri dan Ginekologi RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang, menyampaikan bahwa rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan skrining menjadi salah satu penyebab utama keterlambatan penanganan. “Kebanyakan pasien datang sudah stadium lanjut, sehingga peluang hidupnya jauh lebih kecil. Padahal kanker serviks bisa dideteksi sejak fase prakanker melalui pemeriksaan rutin,” ujarnya.

Menurut dr. Lambertus, pemeriksaan IVA merupakan metode skrining yang murah, cepat, dan dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan klinik. Pemeriksaan IVA dan Pap Smear disarankan dilakukan setiap tiga tahun, sedangkan pemeriksaan HPV DNA dapat dilakukan setiap lima tahun.

Selain deteksi dini, pencegahan juga diperkuat melalui vaksinasi HPV sebagai pencegahan primer, terutama bagi remaja putri yang belum pernah melakukan kontak seksual. Pemerintah menargetkan cakupan vaksinasi HPV mencapai 90 persen pada remaja putri usia 15 tahun.

Melalui peningkatan kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini dan vaksinasi HPV, diharapkan angka kejadian kanker serviks di NTT dapat ditekan dan kualitas hidup perempuan semakin meningkat. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....