Waspada Nipah, Profesor Max Sanam Tekankan Pencegahan

  • 05 Feb 2026 14:38 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Virus Nipah yang disebut kemudian disebut sebagai penyakit Nipah ini adalah penyakit yang ditularkan atau yang melibatkan hewan sebagai reservoar atau perantara yaitu kelelawar dan babi. Penyakit ini pertama kali ditemukan di sungai Nipah, Malaysia pada tahun 1998. 

Dalam perkembangannya virus ini bisa melompat dari kelelawar ke manusia bukan lagi dari babi sebagaimana di Malaysia sebelumnya. Dan bahkan bisa menular di antara manusia.

Hal ini disampaikan Prof. Dr. drh. Max Urias E. Sanam, M.Sc., Guru Besar Mikrobiologi Veteriner Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana (Undana), dalam program Wawancara Kupang Pagi Ini di RRI Kupang, Kamis (5/2/2026). “Virus ini sangat berbahaya karena memiliki “kelebihan” dibandingkan virus zoonosis sebelumnya yang memerlukan kontak langsung dari hewan ternak ke manusia, seperti rabies misalnya,” katanya.

Prof Max menjelaskan, kelelawar dapat menyebarkan virus melalui air liur maupun kotoran yang menempel pada buah-buahan, terutama yang masih berada di pohon. “Masyarakat diingatkan untuk tidak mengonsumsi buah yang sudah terlihat ada bekas gigitan hewan, karena berisiko tinggi terkontaminasi,” katanya.

Lebih lanjut, Prof Max menyoroti bahwa virus Nipah termasuk penyakit yang sangat mematikan. Angka kematian pada kasus akut disebut bisa mencapai 40 hingga 75 persen, sehingga pencegahan menjadi kunci utama. 

Ia juga menegaskan bahwa hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat spesifik untuk manusia, sehingga langkah deteksi dini dan kewaspadaan masyarakat merupakan benteng perlindungan paling efektif. Selain kelelawar, Prof Max juga mengingatkan potensi penularan melalui babi sebagai inang perantara. 

Penularan bisa terjadi kepada peternak maupun pekerja rumah potong hewan melalui kontak langsung, terutama bila tidak menggunakan perlindungan yang memadai. “Peternak harus menjaga kebersihan kandang, serta memakai alat pelindung diri (APD) untuk menghindari paparan cairan tubuh hewan yang mungkin terinfeksi,” katanya.

Terkait gejala klinis, Prof. Max menjelaskan bahwa penderita biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala hebat, hingga penurunan kesadaran. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi ensefalitis akut atau radang otak yang sangat berbahaya.

Ia mengimbau masyarakat agar segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala tersebut, terutama setelah berinteraksi dengan hewan. Dalam kesempatan itu, Prof. Max juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah sedang memperketat pengawasan di pintu masuk NTT, seperti bandara dan pelabuhan, guna memantau pergerakan orang dan komoditas hewan. Protokol kesehatan telah diinstruksikan agar setiap potensi masuknya virus dapat segera teridentifikasi dan ditangani lebih cepat.

Prof. Max mengajak masyarakat untuk tetap tenang, namun tidak meremehkan situasi. Ia menekankan pentingnya pola hidup bersih dan sehat, termasuk mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di luar rumah. Dia berharap sinergi antara masyarakat dan pemerintah semakin kuat, terutama dalam pelaporan cepat jika ditemukan kematian hewan yang tidak wajar di lingkungan sekitar.

“Kewaspadaan kolektif dan kebersihan lingkungan adalah benteng pertahanan utama agar NTT tetap aman dari ancaman virus mematikan ini,” katanya menegaskan. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....