Sleep Paralysis dalam Pandangan Islam dan Medis
- 02 Feb 2026 08:07 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Sleep paralysis atau yang sering disebut ketindihan adalah kondisi ketika seseorang sadar, namun tubuhnya tidak dapat bergerak untuk beberapa saat. Keadaan ini sering disertai rasa sesak, takut, dan kadang halusinasi seperti melihat bayangan atau merasa ada yang menindih.
Karena pengalamannya terasa nyata dan menakutkan, banyak orang mengaitkannya dengan hal gaib. Lalu, bagaimana Islam memandangnya? Secara medis, sleep paralysis terjadi saat otak terbangun lebih cepat daripada tubuh pada fase tidur REM (fase mimpi).
Pada fase ini, otot memang “dimatikan” sementara. Ketika kesadaran datang lebih dulu, tubuh terasa lumpuh. Islam tidak menolak penjelasan ilmiah semacam ini.
Kaidah Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu dinilai berdasarkan sebab-sebab yang nyata (al-asbāb). Selama ada penjelasan rasional, maka itulah yang didahulukan, tanpa harus langsung mengaitkannya dengan hal mistis.
Tidak ada dalil shahih yang secara eksplisit menyebut “sleep paralysis”. Namun, Islam memiliki dalil umum yang relevan, terutama tentang perlindungan saat tidur.
Rasulullah bersabda bahwa siapa yang membaca Ayat Kursi sebelum tidur, maka Allah akan menjaganya dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi (HR. al-Bukhari). Selain itu, Rasulullah juga mengajarkan doa perlindungan dari segala keburukan dan menganjurkan tidur miring ke kanan yang secara medis terbukti mengurangi risiko sleep paralysis.
Ini menunjukkan bahwa Islam fokus pada pencegahan dan ketenangan, bukan pada spekulasi penyebab gaib. Sikap Seorang Muslim saat mengalaminya, jika sleep paralysis terjadi, Islam mengajarkan sikap yang sederhana namun kuat:
- Berlindung kepada Allah (ta‘awwudz), meski hanya di dalam hati
- Berdzikir dan membaca Ayat Kursi
- Tidak panik dan tidak membiarkan rasa takut menguasai diri
Bukan ketakutan yang dikuatkan, tetapi ketergantungan kepada Allah. Sleep paralysis bukan tanda kurang iman, bukan pula bukti gangguan gaib.
Ia adalah fenomena fisik yang bisa dijelaskan secara medis dan disikapi secara spiritual. Islam mengajarkan keseimbangan: mengambil sebab ilmiah, menjaga sunnah, dan memperkuat dzikir.
Dengan ilmu dan iman yang berjalan bersama, rasa takut pun berubah menjadi ketenangan. (TP)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....