Fenomena Sakit Saat Liburan, Ini Penjelasan Ilmiahnya

  • 05 Jan 2026 04:41 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang: Setelah berminggu-minggu disibukkan oleh pekerjaan atau kuliah, masa liburan sering kali dinanti sebagai waktu untuk beristirahat dan memulihkan energi, namun, tidak sedikit orang justru jatuh sakit tepat saat akhir pekan panjang atau hari libur dimulai. Tenggorokan terasa gatal, badan lemas, hingga sakit kepala muncul ketika tubuh seharusnya bersantai.

Menurut techexplorist, fenomena ini disebut sebagai leisure sickness atau penyakit waktu luang. Meski sering dibahas di media sosial dan pengalaman pribadi, bukti ilmiah tentang kondisi ini masih terbatas dan belum sepenuhnya konklusif.

Istilah leisure sickness pertama kali diperkenalkan peneliti Belanda dalam studi tahun 2002. Penelitian terhadap 1.893 responden itu menemukan sekitar tiga persen orang melaporkan lebih sering sakit saat akhir pekan atau liburan dibandingkan hari kerja.

Gejala yang umum dialami antara lain sakit kepala, kelelahan, pilek, flu, nyeri otot, dan mual. Menariknya, risiko sakit lebih tinggi pada minggu pertama liburan, namun, studi tersebut bergantung pada ingatan responden, yang dinilai kurang akurat, serta definisi “jarang sakit” dan “sering sakit” yang bersifat subjektif.

Penelitian lain pada 2014 menyoroti fenomena sakit kepala akibat kekecewaan. Dalam studi kecil terhadap 22 penderita migrain, peneliti menemukan bahwa penurunan tingkat stres justru diikuti kemunculan migrain dalam 24 jam berikutnya, hal ini menunjukkan bahwa transisi dari stres tinggi ke kondisi santai dapat memicu gangguan kesehatan tertentu.

Beberapa studi lain juga mengindikasikan bahwa kejadian stroke pada kelompok tertentu lebih sering terjadi di akhir pekan dibanding hari kerja. Meski penyebab pastinya belum jelas, perubahan gaya hidup saat libur diduga berperan.

Para ahli menilai ada beberapa kemungkinan penyebab. Saat liburan, orang cenderung bepergian dan berada di ruang tertutup yang ramai, seperti pesawat, sehingga lebih terpapar kuman.

Perjalanan jauh juga membuat tubuh berhadapan dengan jenis virus atau bakteri yang belum dikenali sistem imun. Selain itu, pola hidup saat liburan sering berubah, seperti konsumsi alkohol meningkat, jam tidur berantakan, dan aktivitas fisik yang tidak biasa dapat memberi tekanan tambahan pada tubuh.

Ada pula teori yang menyebut bahwa saat sibuk bekerja, seseorang kurang menyadari gejala ringan. Ketika libur, tubuh lebih peka terhadap rasa sakit dan kelelahan yang sebelumnya terabaikan.

Hubungan antara stres dan sistem kekebalan tubuh juga dinilai kompleks. Stres akut memicu pelepasan hormon seperti adrenalin dan kortisol yang dalam jangka pendek justru dapat meningkatkan respons imun dan mengurangi peradangan, namun saat stres tiba-tiba mereda, efek perlindungan sementara itu menghilang, sehingga tubuh lebih rentan mengalami gejala penyakit.

Meski penyebab pasti leisure sickness belum sepenuhnya dipahami, para ahli menyarankan sejumlah langkah pencegahan. Menjaga aktivitas fisik secara rutin, tidur cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang tetap penting, bahkan di tengah kesibukan.

Sebuah studi di Finlandia terhadap lebih dari 4.000 pegawai negeri menunjukkan bahwa mereka yang rutin berolahraga, terutama dengan intensitas cukup tinggi, cenderung lebih jarang mengambil cuti sakit dibandingkan yang tidak aktif. Mengelola stres kerja juga menjadi kunci.

Teknik seperti meditasi, mindfulness, dan relaksasi terbukti efektif menurunkan stres kronis. Dengan persiapan yang tepat, liburan diharapkan benar-benar menjadi waktu pemulihan, bukan justru awal dari sakit. (JR)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....