Risiko Tidur Berlebihan dan Dampaknya bagi Kesehatan
- 28 Nov 2025 07:29 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang: Selama ini, kita terus diingatkan bahwa tidur cukup adalah fondasi kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Kurang tidur terbukti berdampak buruk pada otak, jantung, suasana hati, hingga produktivitas harian, namun kini, laporan terbaru memunculkan kekhawatiran baru, yaitu benarkah tidur terlalu lama juga berbahaya?
Pertanyaan ini muncul setelah sejumlah penelitian menemukan bahwa tidur lebih dari sembilan jam per malam dapat meningkatkan risiko kesehatan tertentu. Informasi ini membuat banyak orang bingung, jika kurang tidur tidak baik, apakah tidur berlebih juga bermasalah?
Seperti nutrisi dan aktivitas fisik, tidur adalah pilar utama kesehatan. Saat tidur, tubuh melakukan berbagai proses krusial, mulai dari pemulihan otot, konsolidasi memori, hingga pengaturan emosi.
Menurut rekomendasi Sleep Health Foundation Australia, orang dewasa idealnya tidur antara 7–9 jam per malam. Meskipun ada individu yang secara alami bisa berfungsi baik dengan tidur kurang dari tujuh jam, sebagian besar orang akan mengalami dampak negatif bila kekurangan tidur.
Dalam jangka pendek, kurang tidur dapat menyebabkan energi berkurang, suasana hati memburuk, konsentrasi menurun, dan meningkatkan stres. Sementara dalam jangka panjang, kurang tidur meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, masalah kesehatan mental, kanker dan risiko kematian yang lebih tinggi.
Sebuah studi yang menggabungkan hasil dari 79 penelitian jangka panjang menemukan bahwa orang yang tidur kurang dari tujuh jam memiliki risiko kematian 14% lebih tinggi. Hal ini tidak mengejutkan, mengingat bahaya kurang tidur sudah diketahui luas.
Namun yang menarik, penelitian itu juga menemukan bahwa orang yang tidur lebih dari sembilan jam per malam memiliki risiko kematian 34% lebih tinggi dibanding mereka yang tidur 7 hingga 8 jam. Hasil serupa juga ditemukan dalam penelitian tahun 2018 yang mengkaji data dari 74 studi lain.
Tidur terlalu lama dikaitkan dengan depresi, nyeri kronis, penambahan berat badan, dan gangguan metabolisme. Para ahli menegaskan bahwa penelitian tersebut menunjukkan korelasi, bukan kausalitas, artinya, tidur panjang belum tentu menyebabkan penyakit.
Sebaliknya, tidur berlebihan justru sering menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya. Beberapa faktor yang menjelaskan hubungan ini, yaitu orang dengan penyakit kronis sering membutuhkan lebih banyak waktu istirahat.
Kondisi seperti depresi dan nyeri membuat seseorang lebih lama di tempat tidur, dan efek samping obat dapat menyebabkan rasa kantuk berlebih. Kualitas tidur buruk membuat seseorang berusaha “mengganti” tidur dengan memperpanjang waktu di tempat tidur.
Faktor gaya hidup seperti merokok dan obesitas juga memengaruhi pola tidur dan kesehatan secara keseluruhan. Dengan kata lain, tidur panjang kemungkinan merupakan indikator, bukan penyebab, kesehatan yang menurun.
Kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda, namun secara umum rekomendasi ilmiah adalah, untuk orang dewasa 7–9 jam, remaja: 8–10 jam, dan lansia tetap 7–9 jam, kecuali ada gangguan tidur. Selain durasi, hal-hal yang sangat penting diantaranya kualitas tidur, konsistensi waktu tidur dan bangun, lingkungan tidur yang nyaman, dan tidur yang tidak berkualitas, meski durasinya lama, tetap tidak optimal untuk kesehatan.
Tidur cukup menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. Penelitian tentang tidur panjang bukan untuk menakut-nakuti, melainkan memberi pemahaman bahwa durasi tidur bisa menjadi indikator kesehatan, karena pada akhirnya, tidur tidak hanya tentang durasi, tetapi juga tentang kualitas, konsistensi, dan kebutuhan tubuh masing-masing. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....