Konselor ‘Setitik Cahaya GenZ’ Sebut Curhat ke AI Memiliki Keterbatasan

  • 05 Okt 2026 07:17 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Fenomena masyarakat yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) sebagai tempat mencurahkan isi hati kini semakin marak dijumpai. Pembina Yayasan Setitik Cahaya Gens, Boni Haning, menilai bahwa kemudahan akses internet menjadi alasan utama tingginya minat warga menggunakan AI tersebut.

"AI itu memang kemudahannya karena pertama kita kapan saja di mana saja selagi internetnya ada kita bisa menanyakan segala sesuatu. Tetapi yang membedakan ya dia hanya menganalisa informasi yang kita katakan," kata Boni Haning dalam siaran Ngobras Pro1 RRI Kupang.

Meskipun praktis, curhat kepada AI dianggap belum bisa menggantikan peran penting tenaga konselor profesional dalam mendampingi masalah emosional. AI hanya memproses petunjuk atau teks yang dimasukkan oleh pengguna tanpa mampu membaca kondisi psikologis secara menyeluruh.

Dalam sesi konseling tatap muka, seorang konselor dapat mengamati berbagai gestur tubuh dan intonasi nada bicara klien secara langsung. Pengamatan fisik secara komprehensif ini menjadi kunci utama untuk memahami perasaan seseorang yang sebenarnya.

"Komunikasi kan bukan hanya sebatas verbal saja, bukan sebatas yang diketik saja, tapi komunikasi itu banyak hal tentang body language-nya, tentang intonasi nada suara, mimik-mimik wajah. Sedangkan kalau konselor, keseluruhannya dilihat waktu datang, apakah sesuai antara yang dia kenal tentang dirinya dengan yang terlihat," ujar Boni Haning.

Menurut Boni, ketidaksesuaian antara ucapan dan bahasa tubuh sering kali muncul dari alam bawah sadar seseorang. Hal inilah yang kerap tidak disadari oleh klien dan tidak dapat ditangkap melalui interaksi berbasis ketikan teks.

"Jadi bagian-bagian yang di alam bawah sadar itu tidak match antara apa yang dikatakan dengan apa yang terjadi di dalam dirinya. Akhirnya memang ada miss di situ yang orang tidak bisa ketahui hanya dengan mengetik di AI," tutur Boni Haning.

Oleh sebab itu, masyarakat disarankan untuk bersikap bijak dan tidak bergantung sepenuhnya pada platform digital saat menghadapi masalah. Penggunaan AI sebaiknya dibatasi untuk mencari pengetahuan umum, sedangkan pemulihan emosional tetap membutuhkan penanganan konselor. (ST)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....