Berkebun Bantu Redakan Stres hingga Turunkan Risiko Demensia

  • 25 Jul 2026 14:28 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Berkebun kini tidak hanya menjadi hobi, tetapi juga semakin banyak direkomendasikan oleh tenaga medis sebagai bagian dari terapi kesehatan. Praktik yang dikenal sebagai resep sosial (social prescribing) ini mendorong pasien melakukan aktivitas seperti berkebun untuk mendukung kesehatan mental dan fisik, selain menjalani pengobatan medis.

Sejumlah negara mulai menerapkan pendekatan tersebut. Pemerintah Inggris, misalnya, menginvestasikan sekitar 7,7 juta dolar AS pada 2020 untuk proyek green social prescribing guna membantu penanganan masalah kesehatan mental. Sementara itu, di Amerika Serikat terapi hortikultura diberikan kepada veteran yang mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD), sedangkan negara-negara Skandinavia memanfaatkan taman terapi untuk membantu pasien dengan gangguan neurologis.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa berkebun memberikan manfaat kesehatan yang luas. Aktivitas seperti menanam, menyiram, memangkas, hingga menggali tanah membantu tubuh tetap aktif sehingga mendukung kesehatan jantung. Selain itu, berada di alam terbuka juga dapat menurunkan kadar hormon stres atau kortisol melalui rangsangan sensorik dari pemandangan hijau, suara burung, aroma tanaman, dan sentuhan tanah.

Penelitian terbaru juga menemukan terapi hortikultura dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia serta mendorong pola makan yang lebih sehat karena meningkatkan konsumsi buah dan sayuran. Tak hanya bermanfaat bagi tubuh, menurut natgeo, berkebun juga dinilai baik untuk kesehatan otak.

Sejumlah studi menemukan bahwa aktivitas berkebun secara rutin berkaitan dengan penurunan risiko demensia, berkurangnya gejala depresi, serta meningkatnya suasana hati. Para peneliti menjelaskan bahwa merawat tanaman memberikan rasa pencapaian dan tujuan hidup, sekaligus merangsang pelepasan dopamin, yaitu zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan.

Manfaat berkebun bahkan disebut dapat mendukung usia yang lebih panjang. Survei terhadap lebih dari 13.000 orang dewasa di Amerika Serikat pada 2024 menunjukkan bahwa berkebun di luar ruangan berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah.

Penelitian longitudinal pada 2026 juga menemukan bahwa orang yang rutin berkebun memiliki risiko kematian sekitar 22 persen lebih rendah serta telomer yang lebih panjang, salah satu indikator usia biologis yang lebih sehat. Para ahli menilai kombinasi aktivitas fisik, berkurangnya stres, pola hidup sehat, dan interaksi sosial menjadi faktor utama yang membuat berkebun semakin diakui sebagai salah satu aktivitas sederhana yang berdampak besar bagi kesehatan dan kualitas hidup. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....