Perempuan Tangguh Mampu Mengubah Tekanan Menjadi Motivasi
- 12 Jul 2026 11:25 WIB
- Kupang
RRI.O.ID, Kupang- Stigma bahwa perempuan harus selalu mengalah, tampil sempurna, dan memprioritaskan orang lain di atas dirinya sendiri masih kuat mengakar dalam budaya masyarakat. Namun, tekanan sosial ini justru bisa menjadi bahan bakar bagi perempuan untuk bangkit dan menunjukkan taringnya sebagai pilar bangsa.
Anggota IPK HIMPSI NTT, Ghea Amalia, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam Obrolan Kita Indonesia RRI Pro 4 Kupang, Jumat 10 Juli 2026, melihat bahwa perempuan, khususnya di NTT, memiliki modal sosial dan kultural yang kuat untuk menghadapi tekanan tersebut. Hanya saja, potensi ini sering kali teredam oleh rasa bersalah (guilt) akibat benturan nilai tradisional dan modernitas.
"Banyak perempuan merasa bersalah ketika mereka mengejar mimpi atau meluangkan waktu untuk self-care. Padahal, untuk bisa memberdayakan lingkungan sekitar, seorang perempuan harus berdaya dan bahagia terlebih dahulu atas dirinya sendiri," ungkapnya.
Lebih lanjut, Ghea menjelaskan bahwa tekanan sosial tidak harus direspons dengan sikap defensif atau menyerah. Perempuan tangguh adalah mereka yang mampu meredefinisikan makna sukses menurut standar mereka sendiri, bukan standar lingkungan.
"Ketika lingkungan menekan, jadikan itu ruang untuk bertumbuh. Kita perlu mengubah narasi dari 'apa kata orang' menjadi 'apa yang terbaik untuk kesehatan jiwa dan masa depan saya'. Saat perempuan saling mendukung dan menguatkan, tekanan sosial sebesar apa pun akan runtuh dengan sendirinya," tegasnya, mengakhiri. (JR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....