AI Melaju Pesat, UNICEF Ingatkan Pentingnya Perlindungan Anak di Ruang Digital
- 06 Jul 2026 22:43 WIB
- Kupang
RRI.COID, Kupang- Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di kalangan anak-anak terus meningkat secara signifikan. Namun, di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, muncul kekhawatiran bahwa perlindungan terhadap anak di ruang digital belum berkembang secepat adopsi teknologi tersebut.
Laporan terbaru dari UNICEF mengungkapkan bahwa AI kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak di berbagai negara. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk belajar, mengerjakan tugas sekolah, hingga mencari saran mengenai persoalan pribadi.
Berdasarkan analisis UNICEF yang mengacu pada data dari 10 negara, sedikitnya 20 juta anak diperkirakan telah menggunakan AI. Tingkat adopsi AI di kalangan anak-anak bahkan disebut lebih dari tiga kali lebih cepat dibandingkan orang dewasa.
UNICEF mencatat sekitar 13 juta anak menggunakan AI untuk membantu proses belajar dan menyelesaikan pekerjaan rumah. Sementara itu, lebih dari 2 juta anak, atau sekitar 1 dari 10 pengguna, mengaku memanfaatkan AI untuk mencari nasihat mengenai masalah yang sedang mereka hadapi.
Meski menawarkan berbagai peluang, UNICEF mengingatkan bahwa pesatnya penggunaan AI belum diimbangi dengan regulasi yang memadai, khususnya dalam melindungi hak-hak anak di dunia digital. "Anak-anak kini semakin terpapar pada sistem AI, mulai dari cara teknologi tersebut dirancang, model bisnis yang digunakan, hingga bagaimana data pribadi mereka diproses. Namun mereka memiliki kemampuan yang jauh lebih kecil untuk menghindari atau menantang sistem tersebut," tulis UNICEF dalam laporannya.
Menurut lembaga tersebut, anak-anak menjadi kelompok yang pertama merasakan dampak lemahnya tata kelola AI dan akan hidup paling lama dengan konsekuensi yang ditimbulkan. Sayangnya, sebagian besar kebijakan mengenai AI di berbagai negara belum menempatkan kepentingan anak sebagai prioritas utama.
UNICEF juga menyoroti bahwa penelitian mengenai dampak AI terhadap perkembangan kognitif, kesehatan mental, maupun ketergantungan emosional anak masih sangat terbatas. Akibatnya, satu generasi anak saat ini dinilai sedang tumbuh di tengah "eksperimen global" penggunaan AI.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa anak-anak sendiri menyadari berbagai risiko yang menyertai perkembangan AI. Di 10 negara yang menjadi objek penelitian, sekitar sepertiga responden anak mengaku khawatir AI dimanfaatkan untuk melakukan penipuan maupun menyebarkan informasi palsu.
Selain itu, sekitar seperempat anak menyatakan kekhawatiran terhadap penyalahgunaan AI untuk membuat deepfake berupa foto atau video eksplisit yang melibatkan wajah mereka tanpa izin. UNICEF menilai masih banyak sistem AI yang dapat diakses anak-anak tanpa mekanisme perlindungan yang memadai, sehingga aspek keselamatan sering kali menjadi perhatian belakangan.
UNICEF menegaskan bahwa keputusan yang diambil dunia saat ini akan menentukan bagaimana AI memengaruhi kehidupan anak-anak di masa depan. Menurut lembaga tersebut, kebijakan yang dibuat sekarang akan berdampak langsung terhadap keselamatan, privasi, kesejahteraan, serta kesempatan yang setara bagi anak-anak dalam memanfaatkan teknologi AI selama beberapa dekade mendatang. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....