Literasi Jadi Kunci Perbaikan Prestasi Akademik Siswa di NTT

  • 02 Jun 2026 10:03 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Kemampuan literasi bukan sekadar rutinitas membaca dan menulis, melainkan fondasi utama dalam membangun kemampuan berpikir kritis, memahami informasi secara mendalam, serta membentuk karakter belajar anak. Namun, dunia pendidikan saat ini sedang dihadapkan pada realitas yang mencemaskan, di mana anak-anak terjebak dalam fenomena “reading without understanding” (membaca tanpa memahami) dan “schooling without learning” (bersekolah tetapi tidak belajar).

Penulis sekaligus konsultan pendidikan terkemuka, E. Nong Yonson, dalam program siaran “Obrolan Akamsi” Pro 4 RRI Kupang, Sabtu, 30 Mei 2026, menyoroti korelasi mutlak antara tingkat literasi dengan jebloknya hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) siswa di berbagai jenjang pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam paparannya, ia mengungkapkan fakta paradoksikal yang saat ini terjadi dalam tata kelola literasi nasional.

Di satu sisi, Indonesia bangga memiliki gedung perpustakaan tertinggi dan termewah di dunia. Namun di sisi lain, indeks literasi riil masyarakatnya masih tergolong sangat rendah.

"Fasilitas fisik cenderung hanya dijadikan sebagai pajangan, visual, dan etalase, tanpa menyentuh substansi mengapa wadah itu dibangun,” ujarnya.

Dampak nyata dari lemahnya akar literasi ini tercermin secara gamblang pada hasil nilai rata-rata Tes Kompetensi Akademik (TKA) siswa di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menempatkan daerah ini di peringkat kedua terbawah dari 38 provinsi di Indonesia. Berdasarkan data resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pencapaian akademik anak-anak di NTT berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Nong Yonson menegaskan perlunya meluruskan salah kaprah di tengah masyarakat dan satuan pendidikan yang mempersempit arti literasi sebatas baca-tulis-hitung (calistung). Ia memaparkan bahwa literasi sejati memiliki formula komprehensif yang diistilahkannya sebagai Rumus 6-3-4-3.

Adapun enam jenis literasi dasar ini meliputi literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, serta literasi kewarganegaraan & kebudayaan. Ia memandang perlunya penambahan poin ketujuh yang tidak kalah krusial, yaitu literasi manajemen emosional.

Sementara untuk tiga tingkatan literasi dimulai dari pembiasaan (misal, membaca 15 menit), lalu naik ke tahap pembelajaran (mampu mengulas, menilai, dan menceritakan kembali teks), hingga puncaknya pada tahap pengembangan (mampu memproduksi karya tulis mandiri). Satuan pendidikan di Indonesia saat ini dinilai terlalu stagnan di tahap pembiasaan semata.

Rumus literasi berikut adalah empat dampak menyeluruh (reading outcomes), yang terdiri atas Reading to Know (membaca untuk mengetahui), Reading to Do (membaca untuk melakukan panduan prosedural), Reading to Be (membaca untuk membentuk kedirian/keahlian), dan Reading to Live Together (membaca sebagai asupan utama hidup harmonis dalam komunitas). Dan yang terakhir adalah, tiga esensi warna karakter manusia, dimana hasil akhir literasi harus bermuara pada pembentukan insan yang baik, yang mencakup tiga kemampuan, yaitu tahu diri (sadar akan porsi dan etika diri), tahu jaga diri (menjaga kehormatan dan kenyamanan resiprokal), serta tahu bawa diri (mampu menempatkan diri dan berkomunikasi sesuai konteks sosial)

Ia juga menyoroti kegagalan menerjemahkan kisi-kisi nasional, dan mengapa anak-anak NTT kesulitan menjawab soal Bahasa Indonesia yang mendasar. Nong Yonson mengidentifikasi kegagalan utama bukan terletak pada kapasitas intelektual anak, melainkan ketidakmampuan sekolah dan tenaga pendidik dalam menerjemahkan kisi-kisi nasional ke dalam metode pengajaran di kelas.

“Kisi-kisi TKA sesungguhnya hanya menguji kompetensi baku: memahami isi teks (5W1H), menemukan ide pokok (paragraf deduktif, induktif, atau campuran), menafsirkan informasi (amanat/pesan), memahami makna kata (sinonim/antonim/ragam baku), membandingkan antar-teks, dan menarik simpulan logis dari makna tersirat,” jelasnya.

Namun, menurutnya sering terjadi ketidaksesuaian beban linguistik secara neurologis. Banyak guru menyusun soal untuk anak SD tetapi dengan panjang kalimat dan kompleksitas karakter yang setara untuk siswa SMP atau SMA.

“Anak-anak SD memiliki batasan kapasitas neuro-linguistik, idealnya satu kalimat hanya terdiri dari 4 sampai 6 kata untuk SD, 6 sampai 7 kata untuk SMP, dan 8 sampai 12 kata untuk jenjang SMA," urainya.

Ia juga menambahkan bahwa sejatinya guru adalah kurikulum hidup itu sendiri. Sebagus apa pun dokumen kurikulum tertulis, cara pengajaran gurulah yang menentukan segalanya.

“Negara harus hadir mengadakan program peningkatan kompetensi guru secara riil dan berfaedah melalui in-house training yang substansial, bukan sekadar agenda rutin tahunan yang formalitas," tegasnya, mengakhiri. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....