Fenomena Langka “Blue Micromoon” Hiasi Langit Akhir Mei
- 28 Mei 2026 10:51 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang–Langit akhir Mei menghadirkan fenomena astronomi langka berupa “Blue Micromoon” atau bulan biru mikro yang terjadi saat bulan purnama mencapai puncak iluminasi pada 31 Mei pukul 08.45 UTC. Fenomena ini menjadi menarik karena menggabungkan dua kondisi langka sekaligus, yakni “blue moon” dan “micromoon”.
Menurut natgeo, meski disebut bulan biru, bulan sebenarnya tidak akan tampak berwarna biru. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan kalender.
Presiden Adirondack Sky Center di New York, Seth McGowan, menjelaskan bahwa istilah “blue moon” lebih berkaitan dengan perhitungan kalender dibanding warna bulan itu sendiri. Selain definisi bulanan, terdapat pula istilah “blue moon” musiman, yaitu bulan purnama ketiga dalam satu musim astronomi yang memiliki empat kali bulan purnama.
Fenomena ini tergolong tidak biasa, namun tetap terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali karena siklus bulan yang berlangsung sekitar 29,5 hari tidak sepenuhnya selaras dengan kalender Masehi. Istilah bulan biru sendiri diyakini berasal dari ungkapan bahasa Inggris kuno yang menggambarkan sesuatu yang sangat langka atau hampir mustahil terjadi.
Dalam beberapa kasus tertentu, bulan memang pernah tampak kebiruan akibat partikel abu vulkanik atau asap kebakaran besar di atmosfer, seperti setelah letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Sementara itu, sebutan “micromoon” terjadi ketika bulan purnama berada di titik terjauh dari Bumi atau disebut apogee, karena jaraknya lebih jauh, bulan akan terlihat sedikit lebih kecil dan lebih redup dibanding bulan purnama biasa.
McGowan mengatakan perbedaan ukuran tersebut cukup halus dan kemungkinan tidak terlalu disadari pengamat biasa tanpa perbandingan langsung. Namun, fotografer atau pengamat langit yang teliti masih dapat melihat perbedaannya, terutama jika dibandingkan dengan fenomena “supermoon”.
Waktu terbaik untuk menyaksikan fenomena ini adalah setelah bulan terbit pada malam 30 Mei atau dini hari 31 Mei. Pengamat disarankan melihat ke arah cakrawala timur saat kondisi langit cerah.
Penggunaan teropong dapat membantu memperjelas detail permukaan bulan seperti kawah dan dataran vulkanik gelap. Fenomena langka ini menjadi momen menarik bagi pecinta astronomi maupun masyarakat umum untuk menikmati keindahan langit malam dan mengamati salah satu peristiwa bulan paling unik tahun ini. (JR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....