Perubahan Iklim Ancam Kepunahan Ribuan Spesies Tumbuhan Dunia

  • 25 Mei 2026 11:59 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Perubahan iklim diperkirakan akan menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan berbagai spesies tumbuhan di dunia hingga akhir abad ini. Para ilmuwan memperingatkan bahwa banyak tumbuhan yang selama ini membentuk lanskap khas berbagai wilayah berpotensi kehilangan habitat alaminya dan menghadapi risiko kepunahan.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science menunjukkan bahwa antara 7 hingga 16 persen spesies tumbuhan berpembuluh di dunia dapat kehilangan lebih dari 90 persen wilayah persebarannya pada periode 2081–2100. Tumbuhan berpembuluh sendiri mencakup hampir seluruh jenis tumbuhan yang memiliki jaringan pengangkut air dan nutrisi.

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis lebih dari 67.000 spesies tumbuhan atau sekitar 18% dari seluruh tumbuhan berpembuluh yang telah dikenal di dunia. Penelitian dilakukan dengan memanfaatkan jutaan catatan lokasi tumbuhan serta berbagai skenario emisi gas rumah kaca masa depan.

Beberapa spesies yang dinilai sangat rentan antara lain pohon besi Catalina yang langka di California, lumut paku purba berusia lebih dari 400 juta tahun, hingga sekitar sepertiga spesies Eucalyptus yang menjadi ikon vegetasi Australia. Junna Wang, peneliti pascadoktoral dari Universitas Yale, bersama Xiaoli Dong, profesor ilmu dan kebijakan lingkungan dari Universitas California Davis, menjelaskan bahwa tumbuhan pada dasarnya berusaha “mengikuti selubung iklim” yang terus bergerak akibat pemanasan global.

“Ketika suhu meningkat, banyak spesies mencoba berpindah ke wilayah yang lebih dingin atau dataran yang lebih tinggi. Namun suhu hanyalah sebagian dari keseluruhan kondisi yang dibutuhkan tumbuhan untuk bertahan hidup,” ujar Wang dan Dong dalam pernyataan bersama kepada Reuters.

Menurut mereka, habitat tumbuhan tidak hanya ditentukan oleh lokasi geografis, tetapi juga kombinasi kompleks antara suhu, curah hujan, kondisi tanah, penggunaan lahan, hingga karakteristik bentang alam seperti naungan. Studi tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim membuat kombinasi kondisi ideal tersebut semakin menyempit, sehingga area yang cocok untuk pertumbuhan banyak spesies menjadi semakin terbatas.

Meskipun beberapa tumbuhan diperkirakan dapat berpindah ke habitat baru melalui penyebaran biji atau spora, para peneliti menemukan bahwa tingkat risiko kepunahan tetap tinggi, bahkan dalam skenario di mana tumbuhan diasumsikan mampu mencapai wilayah baru yang sesuai. Di sisi lain, penelitian juga menemukan bahwa sekitar 28% wilayah daratan Bumi kemungkinan mengalami peningkatan keanekaragaman tumbuhan lokal akibat perpindahan spesies ke area baru, terutama di wilayah tropis dan subtropis dengan curah hujan yang meningkat.

Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa peningkatan jumlah spesies di suatu wilayah tidak berarti kondisi ekosistem menjadi lebih baik secara keseluruhan. Pergeseran ini justru dapat menciptakan “komunitas baru”, yakni kombinasi tumbuhan yang sebelumnya tidak pernah hidup berdampingan.

Para peneliti mengaku belum mengetahui bagaimana interaksi antartumbuhan dalam komunitas baru tersebut akan memengaruhi ekosistem di masa depan. Tumbuhan memiliki peran penting dalam menopang kehidupan di darat, selain menyerap karbon dioksida, tumbuhan juga menjaga kestabilan tanah, menyediakan habitat bagi satwa liar, serta menjadi sumber pangan, obat-obatan, dan bahan baku bagi manusia.

“Jika perubahan iklim mengurangi tutupan vegetasi, maka kemampuan ekosistem menyerap karbon dioksida juga akan menurun. Hal ini dapat memperparah pemanasan global dan menciptakan lingkaran umpan balik yang berbahaya,” kata Wang dan Dong. Mereka menegaskan bahwa upaya melindungi keanekaragaman tumbuhan bukan hanya penting bagi kelestarian alam, tetapi juga untuk menjaga sistem ekologis yang menopang kehidupan manusia di seluruh dunia. (JR)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....