Franco Sola : Mengeksplorasi dan Menulis Puisi Bukan Sekadar Merangkai Kata Indah

  • 25 Apr 2026 12:26 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Perjalanan kreatif Fransiskus Xaverius Albertino Sola atau Franco dalam dunia sastra menjadi bukti bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil. Dalam wawancara kepada RRI pada Sabtu, 25 April 2026, pelajar kelas 11 SMKN 2 Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ini berhasil menorehkan prestasi sebagai juara harapan pertama lomba cipta puisi bertema dewasa, berangkat dari kegemarannya menulis sejak usia remaja.

Bagi Fransiskus Saverius Albertino Sola, menulis puisi bukan sekadar merangkai kata indah, melainkan sebuah proses panjang yang dimulai dari bangku kelas 3 SMP. Berawal dari tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia, Franco justru menemukan ruang untuk mengekspresikan diri dan terus mengasah kemampuannya hingga memasuki dunia digital saat ini.

Proses kreatif Franco dalam melahirkan sebuah karya biasanya memakan waktu dua hingga empat hari untuk memastikan setiap bait memiliki kedalaman rasa. Ia seringkali mengamati dinamika kehidupan orang-orang di sekitarnya dan melakukan riset melalui teknologi AI untuk menyempurnakan diksi agar lebih menyentuh hati pembaca.

“Awalnya dari tugas sekolah, kami diminta membaca dan membuat puisi sendiri, dari situ saya mulai tertarik dan terus belajar mengembangkan,” ungkap Franco. Seiring waktu, ketertarikannya tidak berhenti pada sekadar tugas, tetapi berkembang menjadi ruang ekspresi diri.

Ia aktif membaca, menulis, dan mengeksplorasi berbagai gaya bahasa untuk menemukan ciri khasnya sendiri dalam berkarya. Keberhasilannya meraih Juara Harapan 1 dalam lomba cipta puisi bertema dewasa menjadi bukti bahwa ketekunannya membuahkan hasil yang memuaskan.

Melalui karya berjudul "Antara Cinta dan Realita", ia berhasil menembus posisi 4 besar dari 60 penulis terpilih dan karyanya kini diabadikan dalam sebuah buku antologi. Dalam proses kreatifnya, Franco dikenal sebagai penulis yang mengangkat hal-hal sederhana dari kehidupan sekitar menjadi karya yang bermakna.

“Saya biasanya mengambil inspirasi dari orang-orang sekitar, dari cerita hidup mereka, termasuk pengalaman pribadi yang saya tuangkan dalam bentuk puisi,” jelasnya. Puisi tersebut mengangkat tema kedewasaan dalam menghadapi cinta dan pilihan hidup, yang menurutnya relevan dengan fase kehidupan banyak orang.

Baginya, menulis adalah cara paling jujur untuk mengubah luka lama menjadi energi positif yang bisa memotivasi banyak orang di lingkungan sekolahnya. “Tema ini tentang bagaimana seseorang harus memilih antara mencintai atau melepaskan,” tuturnya.

Untuk menghasilkan satu puisi, Franco membutuhkan waktu sekitar dua hingga empat hari, tergantung pada kedalaman ide yang ingin ia sampaikan. Ia juga tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi, dengan memanfaatkan bantuan digital untuk menyempurnakan pilihan kata. “Saya gunakan teknologi hanya untuk mengevaluasi, bukan untuk menggantikan ide, karena inti dari puisi tetap dari perasaan saya sendiri,” tegasnya.

Dari proses panjang tersebut, Franco berhasil membuktikan bahwa konsistensi dan kemauan belajar adalah kunci utama dalam berkarya. “Jangan takut untuk mencoba dan terus berproses, karena dari situ kita bisa menemukan versi terbaik dari diri kita,” pesannya, menegaskan bahwa prestasi lahir dari perjalanan yang penuh ketekunan dan keberanian. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....