Duta Bahasa NTT Soroti Krisis Literasi dan Bahasa
- 20 Apr 2026 12:46 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi generasi muda, tetapi juga ruang refleksi atas berbagai persoalan kebahasaan di daerah. Dalam Malam Penganugerahan yang digelar di Hotel Kristal Kupang pada, Sabtu, 18 April 2026, dua peserta terpilih sebagai Duta Bahasa NTT 2026, yakni Apriani Virginia Eflin Kulla Dangga dan Yosua Djakabani Dicky.
Yosua Djakabani Dicky menyoroti adanya kesenjangan antara kemampuan membaca dan pemahaman. Menurutnya, banyak anak muda mampu membaca, tetapi tidak memahami isi bacaan secara mendalam.
Ia juga menekankan bahwa hasil berbagai uji kemampuan bahasa Indonesia di NTT menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan, sehingga kemampuan berbahasa perlu terus diperkuat. Sementara itu, Apriani Virginia Eflin Kulla Dangga menilai bahwa klaim tingginya minat baca di NTT tidak boleh diterima begitu saja tanpa kajian mendalam.
Ia menegaskan pentingnya validasi data dan riset yang lebih komprehensif, karena kondisi di lapangan menunjukkan tantangan literasi yang masih cukup besar. Menurutnya, masyarakat tidak boleh berpuas diri dengan angka statistik tanpa melihat realitas sehari-hari.
Selain isu literasi, keduanya juga menyoroti ancaman terhadap bahasa daerah di NTT. Apriani menyebutkan bahwa NTT memiliki sekitar 72 bahasa daerah yang menjadi kekayaan budaya, namun sebagian mulai tergerus dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga.
Ia menekankan bahwa penggunaan bahasa ibu semakin berkurang, bahkan dalam aktivitas sederhana seperti percakapan sehari-hari. “Jika bahasa hilang, maka peradaban juga bisa ikut hilang,” katanya dalam refleksi perannya sebagai Duta Bahasa.
Yosua menambahkan bahwa tantangan NTT juga berada pada keseimbangan penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa asing. Dengan potensi pariwisata yang besar, kemampuan bahasa asing menjadi penting, namun tidak boleh mengabaikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa daerah sebagai identitas budaya.
Sementara itu, Balai Bahasa NTT terus menjalankan program revitalisasi bahasa daerah. Sejak 2022, sedikitnya 12 bahasa daerah telah menjadi bagian dari program pelestarian.
Kepala Balai Bahasa Provinsi NTT, Ralph Hery Budhiono, menegaskan bahwa program Duta Bahasa merupakan agenda tahunan yang bertujuan membentuk generasi muda sebagai figur teladan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sekaligus pelestari bahasa daerah serta penguasaan bahasa asing. Namun di balik agenda tersebut, sejumlah persoalan kebahasaan di NTT kembali mengemuka.
Baik Apriani maupun Yosua menegaskan komitmen mereka untuk menjadikan program kerja Duta Bahasa sebagai kontribusi nyata dalam peningkatan literasi dan pelestarian bahasa. Mereka juga berharap dapat memberikan kontribusi lebih luas pada tingkat nasional, sekaligus menghadirkan pendekatan baru dalam membangun budaya membaca yang lebih menyenangkan bagi generasi muda.
Isu kebahasaan di NTT pun tidak lagi sekadar soal kompetisi, tetapi menjadi cerminan tantangan pendidikan, budaya, dan identitas yang terus berkembang di tengah arus modernisasi. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....