Rektor Undana Tekankan Peran Humanistik di Era AI

  • 08 Apr 2026 14:45 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mencatat pencapaian penting dengan mengukuhkan tiga guru besar dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa yang digelar di Gedung Graha Cendana Kupang, Rabu, 8 April 2026. Pengukuhan ini menambah jumlah guru besar Undana menjadi 79 orang, terdiri dari 55 guru besar aktif, 14 emeritus, satu pindah homebase, dan sembilan telah wafat.

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, dalam sambutannya menyoroti tantangan dunia akademik di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada AI dapat menyebabkan fenomena “menyewa kecerdasan” (renting intelligence), bukan membangun kecerdasan secara mandiri.

“Mahasiswa boleh mencari data dari AI, tetapi kearifan hidup dan keteladanan harus mereka dapatkan dari para guru besar,” katanya. Adapun tiga guru besar yang dikukuhkan adalah; Prof. Randus William Jani (Prof. Wem) di bidang Ilmu Administrasi Publik.

Ia dikenal aktif dalam reformasi birokrasi dan terlibat langsung dalam penyusunan kebijakan di tingkat daerah. Gagasannya menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang responsif dan berorientasi pada masyarakat.

Prof. Linda W. Vangidai (Prof. Linda) di bidang Arsitektur. Dalam orasi ilmiahnya, ia mengangkat konsep arsitektur berbasis kearifan lokal, seperti “kios anggelai”, sebagai representasi ruang sosial masyarakat Nusa Tenggara Timur yang tidak hanya fungsional tetapi juga humanis.

Prof. Sakarya Sebangara (Prof. Chris) di bidang Fisika Material. Penelitiannya tentang pemanfaatan limbah organik seperti kulit buah naga menjadi karbon nanodots dinilai inovatif karena berpotensi digunakan sebagai sensor sekaligus pupuk, mendukung sektor pertanian berkelanjutan.

Rektor menegaskan bahwa di tengah kemajuan teknologi, peran guru besar tidak tergantikan oleh mesin. Ia mengutip pemikiran Jean Piaget dan John Dewey, yang menekankan bahwa pendidikan adalah proses aktif dan berbasis pengalaman nyata.

Menurutnya, guru besar harus menjadi penggerak “humanistic intelligence”, yakni kecerdasan yang mencakup empati, nurani, dan kepekaan sosial, hal yang tidak dapat direplikasi oleh AI. Pengukuhan ini juga diharapkan memberi dampak nyata bagi pembangunan Nusa Tenggara Timur.

Inovasi dan pemikiran para guru besar dinilai selaras dengan kebutuhan daerah, mulai dari reformasi birokrasi, penguatan ekonomi lokal, hingga pengembangan teknologi pertanian. Menutup sambutannya, Rektor menyampaikan apresiasi kepada keluarga para guru besar atas dukungan yang diberikan, serta berharap para profesor baru terus berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan Undana dan Indonesia.

“Tujuan utama pendidikan adalah menciptakan manusia yang mampu melakukan hal-hal baru, bukan sekadar mengulang apa yang dilakukan oleh gerasi sebelumnya,” katanya mengakhiri sambutan. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....