Efektivitas Pembelajaran Online dan Tantangan Pendidikan di NTT
- 08 Apr 2026 10:18 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Wacana penerapan pembelajaran online sebagai bagian dari kebijakan efisiensi energi nasional sempat memunculkan beragam respons di tengah masyarakat. Di satu sisi, kebijakan ini dinilai sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi krisis energi global, namun di sisi lain menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas pendidikan, khususnya di daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan kondisi geografis.
Meski pada akhirnya pemerintah memutuskan untuk membatalkan rencana tersebut, diskusi terkait efektivitas pembelajaran daring tetap menjadi perhatian. Pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi referensi penting dalam menilai dampak pembelajaran online, terutama terkait penurunan kualitas belajar dan munculnya fenomena learning loss di berbagai jenjang pendidikan.
| Baca juga: Pustakawan Jadi Garda Depan Lawan Hoaks |
Dalam Dialog Kupang Menyapa di Pro 1 RRI Kupang, Selasa, 31 Maret 2026, Dekan FKIP Universitas Nusa Cendana, Prof. Dr. Malkisedek Taneo, menegaskan bahwa kebijakan efisiensi energi yang melatarbelakangi wacana pembelajaran online tidak muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, kondisi global seperti konflik di Timur Tengah berdampak pada pasokan energi dunia, sehingga pemerintah perlu mengambil langkah strategis, termasuk mempertimbangkan efisiensi di berbagai sektor.
Ia menjelaskan, dalam konteks pendidikan, rencana pembelajaran online menjadi salah satu opsi kebijakan turunan dari efisiensi tersebut. Namun, pihaknya menyambut baik keputusan pemerintah yang membatalkan kebijakan itu, karena mempertimbangkan dampak besar terhadap kualitas pendidikan. “Kami berterima kasih karena pemerintah melihat bahwa pendidikan memiliki karakteristik khusus yang tidak bisa disamakan dengan sektor lain,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Malkisedek Taneo mengingatkan bahwa pengalaman pembelajaran daring selama pandemi menunjukkan berbagai persoalan serius. Selain penurunan motivasi belajar, banyak peserta didik mengalami kesulitan memahami materi akibat keterbatasan interaksi langsung. Ia juga menyoroti bahwa infrastruktur pendidikan di berbagai daerah, termasuk di NTT, belum sepenuhnya siap untuk mendukung pembelajaran online secara optimal.
Menurutnya, konsep pembelajaran di Indonesia masih sangat bergantung pada interaksi tatap muka antara guru dan peserta didik. Kehadiran guru secara langsung dinilai memiliki peran penting dalam membangun motivasi, memberikan pendampingan, serta menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam. “Teknologi tidak memiliki rasa, sementara dalam pembelajaran dibutuhkan keterlibatan emosional antara guru dan siswa,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa penerapan pembelajaran online berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan, terutama bagi siswa di daerah dengan keterbatasan akses teknologi. Tidak hanya soal perangkat dan jaringan, tetapi juga kesiapan orang tua dalam mendampingi anak belajar menjadi faktor penting yang harus diperhatikan dalam setiap kebijakan pendidikan.
Sebagai rekomendasi, Prof. Malkisedek Taneo menegaskan bahwa pendidikan harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan kebijakan nasional. Ia mendorong adanya kesiapan dari seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, lembaga pendidikan, maupun masyarakat, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan ke depan tanpa mengorbankan kualitas pendidikan. Menurutnya, menjaga tren peningkatan kualitas pendidikan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....