Davis Damaledo Temukan Spesies Serangga Tongkat Endemik Baru di Sumba
- 04 Apr 2026 14:07 WIB
- Kupang
Poin Utama
- Davis Marthin Damaledo berhasil menemukan dan mengidentifikasi spesies baru serangga tongkat bernama Nesiophasma davisdamaledoi, yang menjadi tambahan penting bagi kekayaan keanekaragaman hayati NTT.
- Serangga ini memiliki ciri khas seperti bercak hitam di pipi, ukuran lebih kecil, warna hijau pada jantan, serta hidup di habitat hutan sekunder dan kebun dengan tanaman jambu biji.
- Minimnya riset di NTT membuka peluang besar penemuan spesies baru, sekaligus menjadi pengingat pentingnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan peran vital serangga dalam ekosistem.
RRI.CO.ID, Kupang - Penemuan spesies baru serangga tongkat kembali menambah kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Mahasiswa Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Udayana asal Kupang, Davis Marthin Damaledo, berhasil mengidentifikasi spesies endemik dari Pulau Sumba yang sebelumnya belum terdokumentasi secara ilmiah.
Dalam wawancara bersama RRI Kupang pada Jumat, 3 April 2026, Davis menemukan species serangga tongkat baru yang diberi nama ilmiah Nesiophasma davisdamaledoi, yang merupakan serangga jenis baru endemik Pulau Sumba. Tentunya hal ini menanmbah daftar panjang kekayaan hayati endemik yang dimiliki oleh Nusa Tenggara Timur.
Secara fisik, serangga tongkat asal Sumba ini memiliki ciri khas unik berupa bercak hitam pada bagian pipi atau genae serta ukuran tubuh yang sedikit lebih kecil dibanding kerabatnya. Perbedaan mencolok lainnya terletak pada warna individu jantan yang berwarna hijau terang, sangat kontras dengan jantan dari spesies Timor yang cenderung berwarna cokelat.
Proses penemuan spesies ini berawal dari sebuah foto yang dikirim oleh kerabatnya dari Sumba, yang kemudian memicu rasa penasaran. Davis kemudian melakukan penelitian langsung ke lokasi dan menemukan bahwa serangga tersebut hidup di habitat sederhana seperti kebun dengan tanaman jambu biji.
Davis menceritakan bahwa habitat spesies ini ditemukan di hutan sekunder dan kebun warga, di mana mereka biasanya bertahan hidup dengan mengonsumsi daun jambu biji. Penemuan ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional setelah melalui proses pengamatan telur dan kerja sama dengan rekan peneliti dari Jerman.
Ia juga menjelaskan bahwa spesies baru bukan berarti makhluk yang baru muncul, melainkan organisme yang sudah lama ada namun baru dideskripsikan secara ilmiah. “Spesies baru itu sebenarnya sudah ada sejak lama, hanya saja belum diberi nama dan didokumentasikan dalam dunia sains,” jelas Davis.
Ia menjelaskan bahwa spesies tersebut merupakan hasil dari ketertarikannya sejak kecil terhadap dunia serangga. “Dari kecil saya memang sudah suka serangga, sering ke kebun mencari belalang dan ‘doko-doko’, jadi ini memang passion saya sejak lama,” ujarnya.
Penemuan ini menjadi yang kedua bagi Davis setelah sebelumnya menemukan spesies dari Pulau Timor dengan nama Nesiophasma sobesonbaii. Ia menyebutkan bahwa wilayah NTT masih sangat minim penelitian terkait serangga, sehingga peluang menemukan spesies baru masih sangat besar. “NTT itu salah satu wilayah yang paling underrated dalam konteks taksonomi serangga di Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan masyarakat hendaknya semakin peduli terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati di sekitar mereka. “Harapan saya, orang-orang jadi lebih peka dan tidak menganggap remeh makhluk kecil seperti serangga, karena perannya sangat penting bagi ekosistem,” tuturnya.
Davis berharap masyarakat luas, terutama generasi muda, lebih peka dan tidak meremehkan keberadaan makhluk kecil di sekitar mereka. "Saya berharap orang-orang jadi lebih peka terhadap sesuatu yang selalu diabaikan dan memahami bahwa setiap spesies memiliki peran penting di alam," pungkas pemuda yang bercita-cita menjadi dosen peneliti ini. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....