Anggota Komunitas Flobamora Soroti Tantangan Literasi NTT

  • 20 Feb 2026 12:39 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Penulis muda Nusa Tenggara Timur, Saddam HP, menegaskan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas kreatif, melainkan jalan merawat identitas dan merangkul sesama. Hal itu disampaikannya dalam segmen Tamu Malam di Pro 2 RRI Kupang, Kamis (19/2/2026) pukul 19.00 WITA.

Dalam perbincangan tersebut, Saddam yang juga anggota komunitas Dusun Sastra Flobamora, berbagi pengalaman tentang proses kreatif, kegelisahan sebagai penulis daerah, serta peran komunitas dalam membangun ekosistem literasi di NTT.

Menurut Saddam, menulis dari Timur memiliki tantangan tersendiri. Selain keterbatasan akses dan jejaring, penulis daerah juga kerap berhadapan dengan stereotip tentang minimnya ruang ekspresi. Namun, ia menilai kondisi itu justru menjadi sumber energi untuk terus berkarya.

“Menulis adalah cara kita menyuarakan pengalaman lokal agar tidak hilang,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kekuatan sastra terletak pada keberanian mengangkat cerita-cerita yang dekat dengan realitas masyarakat. Bagi Saddam, identitas Flobamora bukan hanya latar geografis, tetapi juga sumber narasi yang kaya nilai budaya, sosial, dan spiritual.

Sebagai bagian dari Dusun Sastra Flobamora, Saddam aktif mendorong diskusi dan ruang belajar bersama. Komunitas tersebut menjadi wadah berbagi karya, membaca, dan membangun solidaritas antarpenulis muda di NTT.

Ia mengatakan, kehadiran komunitas sangat penting untuk menjaga semangat berkarya. “Kalau kita berjalan sendiri, mudah sekali merasa kecil. Tapi ketika bersama, kita saling menguatkan,” katanya.

Dalam wawancara itu, Saddam juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu menulis dan mempublikasikan karya. Menurutnya, menulis tidak harus menunggu sempurna. Yang terpenting adalah konsistensi dan kemauan untuk terus belajar.

Ia berharap semakin banyak ruang literasi yang tumbuh di NTT, baik melalui komunitas, sekolah, maupun media. Dengan demikian, cerita-cerita dari Timur dapat dikenal lebih luas dan menjadi bagian dari percakapan nasional.

Segmen Tamu Malam Pro 2 RRI Kupang tersebut menjadi ruang refleksi tentang pentingnya merawat suara lokal di tengah arus informasi yang kian deras. Bagi Saddam, sastra adalah jembatan—menghubungkan pengalaman personal dengan kesadaran kolektif masyarakat. (HM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....