Budaya sebagai Fondasi Pendidikan Karater Anak Muda

  • 07 Feb 2026 10:40 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang: Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu di dalam kelas, melainkan sebuah proses yang berakar kuat pada nilai-nilai kebudayaan. Menurut E. Nong Yonson, penulis, praktisi, dan konsultan pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT), budaya merupakan modal sosial dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkarakter.

Ia menekankan bahwa hubungan antara budaya dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. Budaya dapat diibaratkan sebagai "jiwa" dan pendidikan sebagai "tubuh, tanpa nilai budaya, pendidikan hanya akan menjadi kerangka tanpa isi yang kuat.

Mengutip konsep dari Lidia J. Hanifan, Nong menjelaskan bahwa ada tiga unsur utama agar budaya dapat menjadi modal sosial, yaitu nilai (baik-buruk), norma (benar-salah), dan praktik kebiasaan. Di NTT yang multietnis, nilai-nilai ini seharusnya menjadi fondasi karakter murid.

Menurut Nong Yonson, keberhasilan pendidikan karakter bergantung pada kolaborasi tiga lokus utama, yaitu rumah yang berperan sebagai embrio karakter, tempat di mana nilai-nilai kejujuran dan etika pertama kali ditanamkan, kemudian sekolah sebagai tempat karakter bertunas melalui bimbingan guru, dan masyarakat sebagai tempat di mana buah dari karakter tersebut diuji dan diterapkan. Ia juga menyoroti tantangan zaman, di mana banyak anak kehilangan "embrio karakter" di rumah karena kurangnya komunikasi berkualitas dengan orang tua yang sibuk.

"Komunikasi di meja makan kini mulai hilang, padahal anak butuh meniru cara orang tua bersikap dan mengambil keputusan," ujarnya.

Selain itu, melihat maraknya kasus bunuh diri di kalangan pelajar di NTT, Nong Yonson berpendapat bahwa tekanan akademik yang tidak dibarengi dengan kematangan emosional dan karakter yang kuat dari rumah membuat anak menjadi rentan dan temperamental. Ia mengajak pemerintah dan pemangku kepentingan untuk tidak hanya hadir saat kejadian sudah terjadi (retrospektif), tetapi melakukan tindakan preventif dengan memastikan amanat konstitusi untuk melindungi anak-anak terlantar dan kurang mampu benar-benar terlaksana.

Dalam konteks kurikulum, ia juga mendukung penuh penguatan muatan lokal. Sekolah disarankan melibatkan "Mitra Pembelajaran", seperti tokoh adat untuk mengajar sejarah atau praktisi UMKM untuk mengajar ekonomi, dimana hal ini bertujuan agar siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu membaca peluang dan memiliki manajemen finansial sejak dini.

Para pendidik diharapkan mampu membuat murid "jatuh cinta" terlebih dahulu pada pribadi guru sebelum memulai pelajaran, selain itu bagi orang tua, ia mengingatkan bahwa waktu untuk mendampingi anak adalah investasi modal sosial yang paling berharga. "Pendidikan bukan persiapan untuk hidup, melainkan kehidupan itu sendiri," pungkasnya mengutip John Dewey. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....