Indonesia Tembus 7 Besar Besar Negara Paling Berisik di ASEAN 2026

  • 10 Sep 2026 18:49 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Salah satu konsekuensi negatif dari modernisasi adalah timbulnya kebisingan lingkungan. Kebisingan tersebut sulit dihindari akibat akumulasi faktor demografi, tingginya mobilitas transportasi, peningkat aktivitas industri, dan melonjaknya volume wisatawan.

Melansir dari laman GoodStats, berdasarkan data Noise-Free Nations Index publikasi Go2Africa, Singapura mencatatkan skor 6,8 yang menempatkannya di posisi teratas sebagai negara paling berisik, baik di skala ASEAN maupun secara global. Nilai skor yang makin rendah menandakan tingkat kebisingan yang makin tinggi.

Noise-Free Nations Index dikembangkan oleh Go2Africa guna mengkuantifikasi tingkat ketenangan atau potensi kebisingan di suatu negara. Metodologi penilaiannya mencakup tujuh indikator utama, yaitu densitas penduduk, densitas wisatawan, proporsi wilayah pedesaan, cakupan kawasan lindung, serta kepadatan armada kendaraan bermotor, bandar udara, dan jaringan kereta api.

Sumber data yang digunakan melingkupi Worldometer, World Bank, Protected Planet, laporan pariwisata, dan publikasi resmi pemerintah. Seluruh indikator kemudian dinormalisasi ke dalam skala skor 0–100, dengan asumsi bahwa nilai yang lebih tinggi merepresentasikan tingkat ketenangan yang lebih optimal.

Status Singapura sebagai negara kota berwilayah terbatas memicu tingginya kepadatan penduduk, arus kendaraan, kegiatan ekonomi, dan mobilitas jaringan transportasi di dalamnya. Sementara Filipina menduduki peringkat kedua dengan capaian skor 32,6.

Tingginya angka kebisingan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor dominan, meliputi tingginya densitas wilayah perkotaan, besarnya populasi penduduk, serta intensitas kegiatan pariwisata. Adapun Vietnam berada di posisi ketiga negara paling berisik di ASEAN dengan skor 40,8, di mana akselerasi pertumbuhan kota, peningkatan populasi kendaraan bermotor, dan ekspansi infrastruktur menjadi determinan utamanya.

Malaysia menempati peringkat keempat dengan perolehan skor 41,8. Peningkatan intensitas suara lingkungan di negara ini didorong oleh dinamika kawasan metropolitan,seperti yang terjadi di Kuala Lumpur serta aktivitas di sektor industri dan tingginya mobilitas masyarakat.

Thailand menyusul di urutan kelima dengan torehan skor 43,8. Sebagai salah satu destinasi wisata terfavorit di Asia Tenggara, serbuan turis yang melimpah dan lalu lalang transportasi yang padat ikut menyumbang tingginya tingkat kebisingan di sana.

Timor Leste memperoleh skor sebesar 52,9. Meskipun tingkat kebisingannya relatif lebih rendah dibandingkan beberapa negara tetangga, akselerasi pembangunan kawasan perkotaan dan ekspansi infrastruktur tetap memberikan kontribusi terhadap tingkat suara lingkungan di negara tersebut.

Sementara posisi Indonesia peringkat ketujuh dengan capaian skor 53,9. Statusnya sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggarayang diiringi oleh maraknya kota-kota besar, tingginya volume kendaraan, serta kerapatan wilayah urban menjadi determinan utama yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara dengan tingkat kebisingan tinggi.

Myanmar mencatatkan skor 57,9, sementara Laos memperoleh skor 58,1. Kedua negara tersebut memiliki tingkat kebisingan yang relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara dengan tingkat densitas perkotaan yang tinggi, meskipun perkembangan sektor ekonomi dan transportasi tetap memengaruhi kondisi akustik lingkungannya.

Selanjutnya, Brunei meraih skor 64,3; kendati memiliki jumlah populasi yang lebih terbatas, aktivitas transportasi dan pembangunan infrastruktur tetap menjadi pemicu kebisingan. Kamboja diposisi teratas dalam variabel ketenangan dengan perolehan skor 70,8, yang mengindikasikan kualitas lingkungan yang lebih kondusif akibat dominasi kawasan pedesaan dan kepadatan penduduk yang relatif rendah. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....