El Niño Ekstrem Ancam Amazon, Dampak Bisa Meluas ke Ketahanan Pangan Dunia
- 15 Agt 2026 06:43 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang- Amazon menghadapi ancaman kekeringan ekstrem seiring prediksi munculnya fenomena El Niño yang sangat kuat pada 2026. Para ilmuwan memperkirakan puncak El Niño dapat terjadi antara Oktober hingga Desember, bertepatan dengan akhir musim kemarau ketika debit sungai berada pada titik rendah dan vegetasi menjadi lebih kering.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan kerentanan hutan hujan terbesar di dunia terhadap kekeringan dan kebakaran. Menurut theguardian, kekhawatiran semakin besar karena Amazon memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim dan menyediakan curah hujan bagi wilayah pertanian di Amerika Selatan.
Pohon-pohon di kawasan tersebut membantu menyerap karbon dioksida sekaligus melepaskan kelembapan ke atmosfer yang berperan dalam pembentukan sistem hujan. Jika fungsi ekologis Amazon melemah, risiko gangguan iklim, kerawanan pangan, dan cuaca ekstrem dapat semakin meningkat.
Badan meteorologi Brasil memperkirakan El Niño yang luar biasa kuat dapat menunda datangnya musim hujan di Amazon, meningkatkan suhu, menurunkan debit sungai, serta memperbesar risiko kebakaran. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena hutan Amazon masih berupaya pulih dari dampak El Niño sebelumnya pada 2023-2024 yang menyebabkan kekeringan parah, kebakaran, serta gangguan terhadap ekosistem perairan.
Risiko tersebut diperparah oleh degradasi hutan. Sekitar sepertiga wilayah Amazon disebut telah mengalami degradasi akibat aktivitas pertanian, pertambangan, dan gangguan iklim yang disebabkan manusia. Kondisi ini membuat pepohonan dan semak belukar menjadi lebih rentan terbakar.
Pemerintah Brasil telah meningkatkan pemantauan satelit, penegakan hukum, serta kapasitas pemadam kebakaran untuk menghadapi ancaman tersebut. Dampak El Niño juga dikhawatirkan terhadap masyarakat adat dan sektor pertanian.
Kekeringan dapat menyebabkan sungai yang menjadi jalur transportasi utama menyusut, sementara lahan pertanian dan padang rumput berpotensi mengalami kekurangan air. Peternak di kawasan Amazon bahkan telah bersiap menghadapi stres panas pada hewan, menurunnya kualitas padang rumput, serta meningkatnya kebutuhan air dan biaya produksi.
Para ilmuwan memperingatkan kondisi tersebut dapat berlanjut hingga awal 2027 karena adanya jeda antara puncak pemanasan El Niño di Samudra Pasifik dan dampaknya terhadap suhu di berbagai wilayah. Profesor Carlos Nobre dari Universitas São Paulo meminta Amazon bersiap menghadapi kemungkinan kekeringan parah hingga setidaknya Maret 2027, sebab ancaman ini dinilai bukan hanya masalah regional, melemahnya Amazon dapat mengganggu iklim dan produksi pangan global. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....