WHO Catat 1.300 Korban Jiwa Kasus Kematian akibat Gelombang Panas Melanda Eropa

  • 29 Jun 2026 21:52 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa gelombang panas ekstrem di Eropa telah memicu lebih dari 1.300 kematian berlebih. Seiring melonjaknya suhu hingga melewati 40°C di sejumlah negara, otoritas kesehatan setempat mulai mengkhawatirkan kapasitas rumah sakit dan layanan darurat yang kian tertekan.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa lonjakan fatalitas ini terdata sejak Minggu, 21 Juni 2026. Ia juga memperingatkan bahwa stres panas merupakan "pembunuh senyap" yang kian mengancam seluruh benua.

Melalui unggahannya di media sosial X, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyoroti infrastruktur di Eropa termasuk rumah, area kerja, hingga sekolah tidak dirancang untuk menghadapi suhu ekstrem tersebut. Ia menambahkan bahwa laju pemanasan di Eropa kini mencapai dua kali lipat dari rata-rata global.

Akibat perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena cuaca yang dahulunya sangat langka ini sekarang telah bertransformasi menjadi rutinitas tahunan. Sementara itu, gelombang panas terbaru dilaporkan terus bergerak ke arah timur melintasi benua Eropa pada hari Minggu, memecahkan rekor suhu tertinggi di sejumlah negara.

Gelombang panas ini memicu rekor suhu baru di sejumlah negara, termasuk Polandia yang mencatat 40,5°C di kota Slubice. Di Republik Ceko, jaringan stasiun cuaca resmi mencetak sejarah baru setelah suhu di Doksany menyentuh 41,1°C.

Usai puncak panas tersebut, badan cuaca setempat memproyeksikan potensi badai petir di bagian barat negara itu. Di sisi lain, dampak fatal dari cuaca panas ini sangat terasa di Prancis, di mana lembaga kesehatan melaporkan terjadi sekitar 1.000 kematian berlebih terhitung sejak hari Rabu, 23 Juni 2026 lalu.

Gelombang panas ini berakibat fatal bagi lansia di atas 65 tahun dan memicu lonjakan kematian di rumah, serta menyebabkan 74 kasus tenggelam di perairan Prancis yang tidak diawasi. Menurut WHO, jutaan orang masih berada dalam kondisi berbahaya, sekolah-sekolah mulai ditutup dan jaringan listrik di beberapa negara kritis akibat tingginya beban penggunaan pendingin udara.

Menghadapi situasi ini, langkah-langkah darurat segera diberlakukan selama akhir pekan, termasuk pembatalan festival musik besar Defqon.1 di Belanda akibat peringatan cuaca ekstrem kode merah. Guna menjaga kapasitas layanan darurat yang kian tertekan, Paris melarang penjualan alkohol di area publik dan membatalkan pawai Pride kota.

Gelombang panas yang persisten ini sendiri dipicu oleh fenomena kubah panas, di mana kompresi udara yang turun menekan pembentukan awan dan membiarkan sinar matahari membakar permukaan tanah lebih intens. Menghadapi ancaman ini, WHO kini aktif membantu berbagai negara memperkuat sistem kesehatan dan mitigasi darurat.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menyerukan agar negara-negara Eropa segera merumuskan rencana aksi kesehatan panas sebagai langkah konkret dalam melindungi warga dari dampak buruk perubahan iklim. (AK)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....