Pyongyang International Film Festival Kembali Digelar Tahun Ini
- 27 Okt 2025 10:46 WIB
- Kupang
KBRN,Kupang: Setelah jeda enam tahun yang panjang, Korea Utara kembali menarik perhatian global dengan menghidupkan kembali Pyongyang International Film Festival (PIFF) ke-18 tahun ini. Acara yang biasanya digelar dua tahunan ini, yang sempat terhenti akibat pandemi, kini hadir lagi pada 22 hingga 27 Oktober 2025 bertempat di Gedung Bioskop Internasional Pyongyang lima-plex, dengan filmlainnya juga yang akan diputar di bioskop lain di seluruh kota.
Pyongyang International Film Festival (PIFF) adalah acara budaya internasional tahunan yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2002. Tujuannya adalah mengembangkan seni perfilman dengan mempromosikan pertukaran dan kerja sama antara pembuat film dunia di seluruh dunia berdasarkan cita-cita Kemerdekaan, Perdamaian, dan Persahabatan.
PIFF terakhir kali diselenggarakan pada tahun 2019, dan telah berhenti sementara karena penutupan perbatasan dan COVID-19. Young Pioneer Tours (YPT) telah menjadi agen resmi Festival Film Internasional Pyongyang dan telah membawa kelompok ke PIFF.
Pihak penyelenggara saat ini memperluas kerja sama kami dengan festival untuk menampilkan berbagai macam film. Inisiatif ini memberikan kesempatan penting untuk pertukaran budaya, dan memungkinkan penonton lokal untuk menikmati film asing yang biasanya tidak ditayangkan di bioskop.
Kembalinya festival ini menjadi salah satu aktivitas publik terbesar yang dibuka untuk partisipan internasional pasca-pandemi. Meskipun kehadirannya masih terbatas, festival film ini menjadi langkah signifikan bagi Pyongyang untuk memperlihatkan sisi lain negaranya kepada dunia luar, khususnya melalui medium budaya populer seperti film.
Untuk menandai kembalinya Pyongyang International Film Festival ke-18, Korea Utara secara selektif mengundang jurnalis dan utusan media dari China dan Rusia, memperlihatkan upaya negara tersebut untuk memperkuat hubungan melalui seni dan hiburan. Film, yang telah lama menjadi alat propaganda utama, digunakan dalam festival ini untuk menunjukkan narasi nasional, bahkan dengan memutar film dokumenter tentang Kim Jong Un.
Penayangan film-film dari China dan Rusia semakin menegaskan posisi mereka sebagai mitra budaya terdekat, sementara absennya film Barat sangat mencolok. Walaupun acara di Teater Taedongmoon ini menawarkan diskusi dan pemutaran film yang terbilang modern, festival ini dibungkus dengan kontrol ketat.
Peserta asing hanya diizinkan mengakses lokasi yang sudah ditentukan tanpa kebebasan meliput atau berkeliling Pyongyang. Melansir koreajoongangdaily, pengamat menilai acara ini sebagai simbol konsolidasi dengan sekutu di tengah ketegangan global, menggunakan film sebagai alat komunikasi lintas budaya ketika politik menemui jalan buntu. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....