Laporan PBB: Mencairnya Gletser Ancam Ketahanan Air, Pangan

  • 26 Mar 2025 05:09 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang: Laporan Pembangunan Air Dunia PBB 2025 mencatat, pegunungan menyumbang hingga 60% dari aliran air tawar tahunan dunia. Lebih dari satu miliar orang tinggal di wilayah pegunungan, dan lebih dari dua miliar orang bergantung langsung pada air yang berasal dari pegunungan untuk kebutuhan minum, sanitasi, dan mata pencaharian mereka.

Wilayah pegunungan sangat penting bagi sektor seperti peternakan, kehutanan, pariwisata, dan produksi energi. Di negara-negara Andes, 85% tenaga air dihasilkan dari daerah pegunungan. Pegunungan juga menyediakan produk bernilai tinggi seperti tanaman obat, kayu, hasil hutan lainnya, ternak khas pegunungan, serta produk pertanian khusus, yang semuanya bergantung pada air.

Namun, perubahan iklim yang semakin ekstrem telah mempercepat penyusutan gletser dan mengurangi jumlah salju yang turun di banyak wilayah. Situasi ini menyebabkan ketidakpastian dalam pasokan air bagi masyarakat yang bergantung pada pencairan gletser dan salju musiman.

UNESCO melalui laman resminya mengungkapkan sejauh mana gangguan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan aktivitas yang tidak berkelanjutan mengubah lingkungan pegunungan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan ini mengancam sumber daya air yang menjadi penopang bagi miliaran manusia serta ekosistem yang tak terhitung jumlahnya.

Selain itu, laporan PBB mengingatkan bahwa lebih dari separuh penduduk pedesaan di daerah pegunungan negara berkembang mengalami ketahanan pangan yang rendah. Penyusutan gletser juga berdampak besar pada irigasi pertanian di seluruh dunia, termasuk dua pertiga dari seluruh pertanian irigasi global.

Meskipun mencairnya gletser menjadi tanda paling nyata dari perubahan ini, ketidakteraturan curah hujan dan berkurangnya salju turut memperburuk krisis air. Di Jepang, misalnya, puncak bersalju Gunung Fuji baru-baru ini muncul hampir satu bulan lebih lambat dari biasanya akibat suhu yang lebih hangat.

Perubahan pola curah hujan ini juga meningkatkan risiko bencana alam seperti kekeringan dan banjir akibat luapan danau gletser. Sungai Colorado di Amerika Utara, yang melayani sekitar 40 juta orang, mendapatkan sebagian besar airnya dari salju yang mencair di Pegunungan Rocky.

Daerah aliran sungainya telah mengalami kekeringan sejak tahun 2000. Situasi ini bisa semakin parah akibat suhu yang lebih hangat, yang menyebabkan lebih banyak curah hujan turun dalam bentuk hujan, bukan salju, sehingga air lebih cepat mengalir dan tidak tersimpan di pegunungan.

Di wilayah tropis, perubahan curah hujan juga berdampak pada produksi pertanian. Di Madagaskar, perubahan pola air pegunungan mengancam irigasi padi dan kakao, yang merupakan komoditas ekspor utama negara tersebut.

Menyadari urgensi krisis ini, PBB telah meluncurkan berbagai inisiatif, termasuk Hari Gletser Sedunia pada 21 Maret dan Hari Air Sedunia pada 22 Maret. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong kerja sama internasional dalam melindungi sumber daya air pegunungan.

Salah satu proyek utama yang didukung oleh UNESCO adalah sistem pemantauan gletser lintas batas di Asia Tengah, yang bertujuan mengurangi risiko bencana dan meningkatkan pemahaman ilmiah mengenai perubahan air pegunungan. Selain itu, proyek "Unlocking the Kilimanjaro Water Tower" yang didanai sebesar 8 juta dolar AS akan membantu lebih dari 2 juta orang di Tanzania dan Kenya yang bergantung pada air dari Gunung Kilimanjaro.

Dengan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, upaya kolektif untuk melindungi dan mengelola sumber daya air pegunungan menjadi semakin mendesak. Tanpa tindakan segera, dunia dapat menghadapi krisis air yang lebih besar, mengancam kehidupan miliaran orang serta ketahanan ekonomi global. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....