Thailand Juara Satu Produksi Serangga Sebagai Bahan Makanan

  • 20 Mar 2025 13:20 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang: Komunitas pedesaan di Thailand telah lama mencari serangga sebagai sumber protein utama. Praktik tradisional ini kini telah beralih ke pertanian komersial, yang menjadikan Thailand sebagai negara yang paling banyak memproduksi serangga yang dapat dimakan.

Menurut Nationalgeographic, serangga ini diperoleh dari peternakan yang khusus memproduksi jangkrik dan berbagai serangga lain yang kini memasok pasar makanan hewan peliharaan internasional. Serangga ini kemudian di distribusikan ke restoran-restoran Thailand, yang kemudian akan divariasikan pada berbagai hidangan, bahkan memasukkannya dalam menu kelas atas.

Serangga yang dapat dimakan telah lama dipromosikan sebagai sumber makanan yang bergizi dan ramah lingkungan, dan sebagai potensi untuk revolusi pertanian global. Namun hal ini masih belum secara luas diterima oleh masyarakat di dunia, karena faktor rasa jijik terhadap makanan berbasis serangga.

Thailand memiliki lebih dari 200 spesies serangga yang dapat di makan, atau terbanyak kedua setelah Meksiko. Kebiasaan makan serangga paling umum ditemukan di wilayah utara dan timur laut pedesaan, dimana serangga menjadi pengganti daging yang melimpah.

“Orang-orang bisa langsung pergi ke ladang dan mengumpulkannya tanpa biaya apapun”, ujar Natopot Warrit, seorang ahli entomologi di Universitas Chulalongkorn, Bangkok.

Banyak pasar di Thailand yang menawarkan beragam kumbang yang masih bergerak maupun diam, jangkrik, semut, ulat, dan tonggeret. Hidangan populer termasuk ulat bambu yang gurih, kepik air raksasa dengan aroma khas menyerupai keju biru, serta telur semut merah yang menjadi bahan utama dalam hidangan kari musim semi "Gaeng Kai Mot Daeng."

Di wilayah selatan, cockchafer, kumbang musiman berukuran besar, sering dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan ayam atau daging babi. Peran Thailand sebagai pusat regional untuk serangga pangan tercermin dalam hiruk-pikuk Pasar Khlong Toei di Bangkok.

Salah satu tantangan terbesar bagi industri pangan serangga adalah mengatasi faktor “jijik" dari memakan serangga utuh. Untuk mengatasinya, produsen kemudian mulai menggiling serangga menjadi bubuk seperti tepung yang dapat dicampurkan ke dalam makanan dan produk yang lebih familiar seperti cokelat, roti dan mi.

Meski pasar tepung serangga saat ini terus berkembang, masih banyak serangga utuh yang dijual, seperti jangkrik, yang digoreng dan populer sebagai camian pendamping bir. Bahkan beberapa restoran juga mulai mengganti produk daging dengan serangga.

Entomofagi atau kebiasaan memakan serangga telah ada sejak lama, dimana ada sekitar dua miliar orang di dunia yang mempraktikan kebiasaan ini. Hal ini karena serangga bermanfaat bagi kesehatan tubuh karena kaya akan protein, lemak dan senyawa lain, seperti serat kitin, yang dapat membentuk eksoskeleton dan mendukung metabolisme serta kesehatan mikrobioma usus. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....