Remaja Butuh Bimbingan di Era Digital

  • 11 Apr 2025 18:26 WIB
  •  Kupang

KBRN, Rote: Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan apabila serial Adolescence menggambarkan gejolak emosi remaja. Pencarian jati diri kerap disertai tekanan sosial yang berat.

Media sosial turut membentuk cara pandang remaja. Algoritma menyajikan konten sesuai kebiasaan dan minat anak.

Jika terpapar konten negatif, anak sulit keluar darinya. Tanpa pendampingan, mereka membangun sudut pandang yang sempit.

Orang tua sering tak paham dunia digital anak. Gap literasi digital menciptakan jarak dalam komunikasi keluarga.

Anak tampak baik-baik saja, padahal sedang berjuang. Dunia maya menyembunyikan banyak tekanan yang tak terlihat.

Orang tua terkadang melarang tanpa pemahaman utuh. Larangan pakai gawai bukan solusi jangka panjang yang efektif.

Alih-alih terbuka, anak justru semakin tertutup. Mereka merasa orang tua tak memahami dunia digital.

Padahal, orang tua harus menjadi tempat aman anak. Anak butuh ruang untuk bercerita tanpa takut dihakimi.

Dukungan emosional penting bagi kesehatan mental anak. Orang tua bisa menjadi kompas nilai moral digital.

Perundungan dan bahaya digital nyata mengintai remaja. Tanpa bimbingan, anak lebih mudah menjadi korban.

Negara juga turut hadir lewat PP TUNAS. Peraturan ini diteken Presiden Prabowo Subianto pada Maret 2025.

PP TUNAS wajibkan platform lindungi anak di internet. Termasuk edukasi digital dan larangan profiling komersial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....