PERMABUDHI NTT Kecam Penembakan ASN di Jayawijaya
- 14 Sep 2026 16:10 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - “Kekerasan Tak Pernah Dibenarkan untuk Menghilangkan Nyawa”. Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indra Effendy, S.E., M.Pd., saat dihubungi RRI, Senin 14 September 2026.
Ia menyampaikan dukacita mendalam atas meninggalnya putra-putri NTT yang menjadi korban penembakan di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Indra menilai peristiwa tersebut sebagai tragedi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan.
Ia mengecam keras setiap bentuk kekerasan yang menghilangkan nyawa manusia, terlebih terhadap warga yang sedang menjalankan tugas dan pengabdian kepada masyarakat. “Kami mengecam setiap tindakan kekerasan yang menghilangkan nyawa manusia. Terlebih terhadap warga ataupun masyarakat yang sedang menjalankan tugas dan pengabdian pada masyarakat yang lainnya,” ujar Indra.

Menurutnya, pandangan tersebut sejalan dengan prinsip dasar dalam ajaran Buddha yang menempatkan kehidupan sebagai sesuatu yang sangat berharga. Karena itu, tidak ada persoalan yang dapat dijadikan pembenaran untuk menyelesaikan masalah dengan cara menghilangkan nyawa orang lain.
“Dalam ajaran kami, kehidupan itu merupakan sesuatu yang sangat berharga. Tidak ada persoalan yang membenarkan untuk diselesaikan dengan cara menghilangkan nyawa sesama manusia,” katanya.
Indra menekankan bahwa kekerasan justru akan melahirkan penderitaan baru dan memperpanjang luka di tengah masyarakat. Karena itu, ia meminta pemerintah dan aparat keamanan mengusut tuntas peristiwa penembakan tersebut serta memastikan perlindungan dan rasa aman bagi seluruh warga negara yang bertugas dan mengabdi di berbagai wilayah Indonesia.
Di tengah duka dan kemarahan akibat peristiwa tersebut, PERMABUDHI NTT juga mengingatkan masyarakat agar tidak terprovokasi. Indra mengajak seluruh masyarakat NTT tetap tenang dan tidak menjadikan tindakan kekerasan oleh kelompok tertentu sebagai alasan untuk membangun kebencian terhadap masyarakat Papua secara keseluruhan.
Indra meminta masyarakat mampu membedakan antara tindakan kelompok bersenjata dengan masyarakat Papua secara umum. “Kita harus mampu membedakan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok tertentu, dalam hal ini KKB, dengan masyarakat Papua sendiri yang secara keseluruhan menggambarkan kehidupan yang aman dan damai,” katanya.
Pesan tersebut dinilai penting agar tragedi penembakan tidak berkembang menjadi konflik sosial yang lebih luas atau memunculkan stigma terhadap kelompok masyarakat tertentu.
Dari perspektif keagamaan, Indra menegaskan bahwa kehidupan manusia memiliki nilai yang sangat tinggi. Kekerasan yang merenggut nyawa bukan hanya menimbulkan kehilangan bagi keluarga korban, tetapi juga meninggalkan penderitaan dan luka sosial yang panjang.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mengedepankan kasih, kebijaksanaan, persaudaraan, dan perdamaian dalam menghadapi situasi tersebut. Ia juga menyampaikan harapan agar keluarga korban diberikan kekuatan dan ketabahan.
Menurutnya, duka atas tragedi tersebut harus menjadi momentum bersama untuk menolak kekerasan, menjaga persaudaraan antarsesama anak bangsa, serta memperkuat komitmen terhadap perdamaian.
“Semoga keluarga para korban diberikan kekuatan dan ketabahan. Mari kita bersama-sama menolak kekerasan, menjaga persaudaraan, dan terus mendoakan agar perdamaian dapat terwujud di tanah Papua, di Nusa Tenggara Timur, dan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Indra menutup pesannya dengan prinsip yang sangat kuat dalam menghadapi konflik: kebencian tidak akan berakhir dengan kebencian. Kebencian hanya dapat berakhir dengan kasih, kebersihan batin, dan kebijaksanaan.
Pesan tersebut menjadi seruan agar tragedi kemanusiaan tidak dibalas dengan kebencian baru, melainkan menjadi dorongan untuk menegakkan hukum, melindungi masyarakat, dan menjaga persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....