Pencegahan dan Dukungan Keluarga; Benteng Utama Melawan Narkoba
- 13 Jul 2026 23:34 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Pencegahan penyalahgunaan narkoba dinilai harus menjadi langkah utama dalam memutus rantai peredaran gelap narkotika. Selain penegakan hukum, upaya membangun kesadaran masyarakat, memperkuat peran keluarga, serta memberikan dukungan kepada korban penyalahgunaan menjadi faktor penting untuk melindungi generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif karena mampu mencegah seseorang terjerumus sebelum mengalami ketergantungan yang berdampak pada kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Pandangan tersebut disampaikan Koordinator Program Studi Psikologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana), Dr. M. Dinah Charlota Lerik, S.Psi., M.Si., dalam Dialog Kupang Menyapa Pro 1 RRI Kupang.
Menurutnya, ancaman narkoba perlu dipandang sebagai pengingat agar masyarakat lebih waspada, bukan untuk menimbulkan rasa pesimis. Ia menegaskan bahwa penyalahgunaan narkoba akan merugikan individu secara psikologis, mengganggu keharmonisan keluarga, hingga berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia bangsa di masa depan.
Mariana menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki bagian otak yang berfungsi sebagai pusat kesenangan atau nucleus accumbens. Ketika seseorang mengonsumsi narkoba, bagian otak tersebut akan terstimulasi sehingga memunculkan rasa senang.
Jika rangsangan itu terus berulang, otak akan membentuk ketergantungan yang membuat seseorang semakin sulit melepaskan diri dari penyalahgunaan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kecanduan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara bertahap hingga akhirnya merusak fungsi otak.
Ia juga menerangkan bahwa remaja menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyalahgunaan narkoba karena bagian otak yang mengatur pengendalian diri, pengambilan keputusan, dan penilaian risiko belum berkembang secara sempurna. Di sisi lain, dorongan untuk mencari pengalaman yang menyenangkan pada usia tersebut sangat tinggi.
Kebiasaan yang dimulai sejak remaja dapat berlanjut hingga dewasa, terutama ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan maupun masalah sosial dan menjadikan narkoba sebagai pelarian untuk memperoleh rasa nyaman. Menurut Mariana, tantangan lain yang masih dihadapi adalah stigma masyarakat terhadap penyalahguna narkoba.
Ia menilai banyak keluarga memilih menutupi persoalan karena rasa malu atau takut mendapat penilaian negatif dari lingkungan. Padahal, penyalahguna justru membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat. Keluarga, kata dia, harus menjadi sistem pendukung utama dengan mengenali perubahan perilaku sejak dini, memberikan pendampingan, dan tidak membiarkan anggota keluarga menghadapi masalah tersebut seorang diri.
Ia menegaskan bahwa rehabilitasi merupakan bagian penting dalam proses pemulihan penyalahguna narkoba. Meskipun keluarga merasa kecewa atau marah, mereka tetap perlu mencari bantuan profesional karena rehabilitasi memberikan peluang bagi penyalahguna untuk pulih, terbebas dari ketergantungan, dan kembali menjalani kehidupan secara produktif. Menurutnya, proses tersebut memang membutuhkan waktu, komitmen, serta pengelolaan emosi yang baik, namun peluang untuk sembuh tetap terbuka apabila mendapatkan dukungan yang tepat.
Menutup dialog, Mariana mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari orang tua, guru, dosen, tokoh agama, tokoh adat, hingga komunitas, untuk bersama-sama menjadi pelindung, pendidik, dan pendamping bagi generasi muda. Ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang hangat di lingkungan keluarga, menciptakan ruang yang aman bagi anak untuk berkembang, serta memperkuat kepedulian sosial agar generasi muda tidak terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba dan mampu menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan kualitas sumber daya manusia yang sehat dan unggul.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....