Siswi SMAK Giovanni Kupang Bawa Pesan Perdamaian dalam AYL Jepang 2026

  • 17 Agt 2026 13:47 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Siswi SMAK Giovanni Kupang, Maria Regina Louisa Ora Ngganggus, mengukir prestasi membanggakan setelah terpilih menjadi satu-satunya perwakilan Nusa Tenggara Timur dalam ajang Asian Youth Leaders (AYL) 2026. Program pertukaran pelajar internasional yang diselenggarakan oleh AEON 1% Club Foundation ini berlangsung di Jepang pada 26 Juli hingga 1 Agustus 2026.

Dalam wawancara bersama RRI pada Sabtu, 15 Agustus 2026, Louisa menyebut kegiatan tersebut mempertemukan pelajar tingkat SMA dari delapan negara Asia untuk mendiskusikan berbagai isu global. Pada pelaksanaan tahun ini, para peserta berfokus mendalami topik perdamaian serta melihat sudut pandang isu sosial dan lingkungan dari perspektif internasional.

Keberhasilan Louisa menembus seleksi ketat ini menjadi bukti kegigihannya setelah sebelumnya sempat gagal pada ajang serupa. Melalui proses seleksi administrasi, pembuatan esai, video berbahasa Inggris, hingga wawancara, ia akhirnya terpilih memperkuat kontingen Indonesia bersama peserta dari daerah lainnya.

"Visi misi yang Luisa bawa adalah menjadikan student exchange (pertukaran pelajar) ini sebagai batu loncatan agar bisa melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas, lalu menciptakan perubahan untuk pelajar di NTT," ujar Louisa.

Selama berada di Jepang, peserta mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran melalui kunjungan, diskusi bersama pemateri, hingga penyusunan proposal dalam kelompok internasional. Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Louisa adalah belajar tentang kedisiplinan waktu, yang menurutnya menjadi bentuk penghargaan terhadap orang lain dan waktu yang telah dipersiapkan bersama.

Pengalaman tersebut juga melahirkan gagasan untuk membangun platform perdamaian bernama The Touch of Empathy, yang dirancang sebagai ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan perspektif dan bertukar pandangan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda. “Kita tidak melihat bahwa ide kita yang paling benar, tetapi bisa melihat bahwa di belahan dunia lain ada orang dengan perspektif yang jauh lebih berbeda,” kata Louisa.

Selama 10 hari rangkaian kegiatan di Jepang, para peserta diajak mengunjungi tempat bersejarah di Okinawa dan Tokyo serta merancang proyek advokasi perdamaian. Pengalaman berinteraksi dengan delegasi dari berbagai negara pembawa pandangan berbeda makin membuka wawasan Louisa mengenai makna perdamaian yang inklusif.

Ia menekankan bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan rasa aman dan saling memahami yang dimulai dari empati tiap individu. "Siapapun yang akan menjadi pemimpin di masa depan, pastikan bisa memimpin diri sendiri terlebih dahulu, dan untuk anak muda NTT jangan pernah takut untuk mencoba," ujar Louisa, sebagai penutup wawancara.

Louisa berharap pengalaman dan proyek tersebut tidak berhenti pada dirinya maupun peserta AYL lainnya, tetapi dapat memberi manfaat bagi anak muda di NTT. Ia berencana membagikan pembelajaran melalui sosialisasi dan ruang daring, sementara proyek The Touch of Empathy saat ini masih berada dalam tahap penyusunan proposal dan strategi operasional.

Bagi Louisa, menjadi pemimpin masa depan harus dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. “Pastikan kalian bisa memimpin diri kalian terlebih dahulu,” pesannya, sembari mengajak anak muda NTT untuk tidak takut mencoba, berani menghadapi kegagalan, dan terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....