Kenali Body Shaming yang Sering Dianggap Hal Biasa
- 29 Jun 2026 07:23 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang - Di tengah kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar komentar seperti, "Kok sekarang gemukan?", "Kurus banget, makan dong!", atau "Kulitmu kok tambah gelap?". Banyak orang menganggap ucapan seperti ini hanyalah candaan atau bentuk perhatian. Padahal, komentar tersebut termasuk body shaming, yaitu tindakan mengomentari atau mengkritik penampilan fisik seseorang dengan cara yang dapat menyakiti perasaannya.
Karena sudah dianggap lumrah dalam lingkungan keluarga, pertemanan, hingga media sosial, body shaming sering kali tidak disadari dampaknya. Padahal, kebiasaan ini dapat memengaruhi kesehatan mental, rasa percaya diri, bahkan kualitas hidup seseorang.
Body shaming adalah perilaku memberikan komentar negatif, mengejek, mengkritik, atau mempermalukan seseorang berdasarkan bentuk tubuh, berat badan, warna kulit, tinggi badan, atau karakteristik fisik lainnya.
Tindakan ini dapat dilakukan secara langsung melalui percakapan maupun secara tidak langsung melalui media sosial, pesan singkat, atau unggahan di internet.
Banyak kalimat yang terdengar sepele ternyata termasuk body shaming, misalnya:
- "Kamu kok makin gemuk?"
- "Kurus banget, apa tidak pernah makan?"
- "Hitam sekali sekarang."
- "Pendek ya, susah cari pasangan nanti."
- "Jerawatnya banyak sekali."
- "Hidungmu kurang mancung."
- "Pipi kamu besar, lucu banget."
Meskipun tidak selalu diucapkan dengan niat buruk, komentar seperti ini bisa membuat penerimanya merasa tidak nyaman atau minder.
Body shaming bukan hanya menyakiti perasaan sesaat. Jika terjadi berulang kali, dampaknya dapat lebih serius, antara lain:
1. Menurunkan Rasa Percaya Diri
Korban body shaming sering merasa penampilannya tidak cukup baik sehingga kehilangan kepercayaan diri dalam bergaul maupun bekerja.
2. Memicu Gangguan Kesehatan Mental
Komentar negatif yang terus-menerus dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, bahkan depresi pada sebagian orang.
3. Munculnya Body Image Negatif
Seseorang dapat mulai memandang tubuhnya secara berlebihan atau merasa selalu memiliki kekurangan, meskipun sebenarnya tidak demikian.
4. Gangguan Pola Makan
Dalam upaya memenuhi standar penampilan tertentu, sebagian orang mungkin melakukan diet ekstrem atau makan secara berlebihan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan makan dan berdampak pada kesehatan.
5. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial
Korban body shaming terkadang memilih menghindari pertemuan, enggan difoto, atau tidak percaya diri tampil di depan umum karena takut kembali menerima komentar tentang penampilannya.
Ada beberapa alasan mengapa perilaku ini masih sering dianggap wajar, di antaranya:
- Dianggap sebagai candaan.
- Kebiasaan yang diwariskan dalam lingkungan keluarga atau pergaulan.
- Kurangnya pemahaman tentang dampak psikologisnya.
- Anggapan bahwa mengomentari penampilan adalah bentuk perhatian atau motivasi.
Padahal, niat yang baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik jika cara penyampaiannya menyakiti orang lain.
Agar tercipta lingkungan yang lebih positif, kita dapat mulai dengan beberapa langkah sederhana:
- Hindari mengomentari bentuk tubuh atau penampilan seseorang jika tidak diminta.
- Berikan pujian berdasarkan usaha, kemampuan, atau prestasi, bukan hanya penampilan fisik.
- Gunakan kata-kata yang membangun dan menghargai orang lain.
- Ingat bahwa setiap orang memiliki kondisi tubuh, latar belakang, dan kesehatan yang berbeda.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Body Shaming?
Jika Anda menjadi korban body shaming, beberapa langkah berikut dapat membantu:
- Sadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh bentuk tubuh atau penampilan.
- Jangan ragu mengatakan bahwa komentar tersebut membuat Anda tidak nyaman.
- Batasi interaksi dengan orang yang terus-menerus memberikan komentar negatif.
- Fokus pada menjaga kesehatan tubuh, bukan sekadar mengejar standar kecantikan atau ketampanan yang tidak realistis.
- Jika komentar tersebut mulai memengaruhi kesehatan mental atau kehidupan sehari-hari, pertimbangkan untuk berbicara dengan orang tepercaya atau berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Setiap orang memiliki bentuk tubuh, warna kulit, tinggi badan, dan karakteristik fisik yang berbeda. Keberagaman tersebut adalah hal yang wajar dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan seseorang.
Daripada mengomentari penampilan, kita bisa memilih untuk memberikan dukungan, menghargai pencapaian, atau sekadar menanyakan kabar. Sikap sederhana ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan nyaman bagi semua orang.
Body shaming sering kali hadir dalam bentuk komentar yang dianggap biasa atau sekadar bercanda. Namun, dampaknya dapat memengaruhi rasa percaya diri, kesehatan mental, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Dengan lebih berhati-hati dalam berbicara dan menghargai perbedaan fisik setiap individu, kita dapat membantu menciptakan budaya yang lebih positif dan penuh empati. Ingatlah bahwa setiap orang berhak dihargai, bukan karena penampilannya, melainkan karena nilai, karakter, dan kemanusiaannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....