Kupang Book Party, Wadah Baca Menyangangka Era digital

  • 17 Nov 2025 16:40 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang: Komunitas Kupang Book Party (KBP) hadir sebagai inisiatif segar untuk merayakan kegembiraan membaca di tengah hiruk pikuk arus digitalisasi. Berdiri sejak Maret tahun ini, komunitas ini mengadaptasi konsep "pesta buku" dari Jakarta dan Bali, mewujudkan hasrat kolektif untuk mencari wadah diskusi literasi di Kota Kupang.

Tiga koordinator komunitas, yaitu Imel Eylanor (Public Relatio KBP), Monika Evrista (Bendahara KBP), dan Siska Bili (Community Coordinator KBP), berbagi cerita inspiratif tentang pembentukan dan kegiatan mereka kepada RRI pada, Rabu (12/11/2025). KBP menyelenggarakan kegiatan utamanya yang disebut silent reading dan sharing session, di mana anggota berkumpul untuk membaca dalam diam sebelum berbagi pandangan dan kesan atas buku yang mereka baca.

“Kegiatan sederhana namun bermakna ini bertujuan untuk memupuk kembali kecintaan masyarakat, khususnya anak muda, terhadap buku,” ucap Monika Evrista.

Fenomena mahalnya harga buku di wilayah Timur Indonesia serta maraknya akses buku ilegal dalam format digital (PDF) menjadi tantangan utama yang dihadapi KBP. Menanggapi isu ini, anggota KBP berupaya untuk mengatasinya melalui konsep komunitas yang memungkinkan anggotanya saling meminjam dan bertukar bacaan, merupakan sebuah langkah praktis untuk memperluas jangkauan literasi tanpa terbebani biaya tinggi.

Selain itu, KBP juga aktif menerima sumbangan buku untuk disalurkan kepada anggota dan masyarakat. Mereka mencatat bahwa minat baca anak muda Kupang cukup beragam dan nis-nis, termasuk fiksi, novel sejarah (historical fiction), dan isu-isu feminisme.

Sejak didirikan, KBP telah melaksanakan berbagai program yang menarik, menunjukkan dinamika dan antusiasme anggota. Beberapa kegiatan yang sudah terlaksana antara lain KBP Goes to School untuk membangun minat baca di sekolah dengan sarana buku yang kurang memadai, KBP Camp yang memadukan kegiatan berkemah dengan diskusi buku di alam terbuka, serta kolaborasi dengan pasar komunitas lokal seperti Takuju Market.

“KBP juga memanfaatkan platform digital untuk mengumumkan kegiatan kami melalui Instagram dan grup WhatsApp, membuat komunikasi dan partisipasi menjadi lebih mudah dan inklusif,” kata Siska Billi.

Dalam menghadapi tantangan rendahnya rentang perhatian (attention span) di era digital, Komunitas Kupang Book Party berpandangan bahwa membaca, baik secara fisik maupun digital, adalah esensi dari upaya literasi yang harus terus digalakkan. KBP menyadari pentingnya memanfaatkan ranah digital untuk mencapai khalayak yang lebih luas.

Mereka berupaya mengintegrasikan kegiatan komunitas dengan inisiatif digital, salah satunya melalui penerbitan Medium, sebuah platform blog yang menampung karya-karya sastra (puisi, jurnal, opini) dari anggotanya maupun masyarakat Kota Kupang. Melalui laman Medium ini, KBP berupaya untuk terus menciptakan ruang bagi ekspresi literer dan diskusi mendalam di luar pertemuan fisik.

Upaya ini merupakan perwujudan adaptasi KBP terhadap perkembangan teknologi informasi, memastikan bahwa nilai-nilai literasi tetap relevan di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi secara digital.

“Ke depannya, KBP berharap dapat terus menumbuhkan kesadaran bahwa membaca berarti membaca dan memahami, bukan sekadar menuntaskan teks. Kami mendorong gerakan positif, seperti kampanye media sosial untuk berbagi daftar bacaan (book haul) dan buku yang sudah selesai dibaca, menggunakan prinsip Fear of Missing Out (FOMO) untuk tujuan yang baik,” ujar Imel Eylanor.

Dengan semangat yang terbuka dan demokratis dalam mengatur jadwal kegiatan, KBP berhasil menjaga keseimbangan antara kesibukan pribadi anggota dan aktivitas komunitas. Mereka mengundang siapa saja yang tertarik untuk bergabung dengan memantau informasi kegiatan dan pengumuman di akun Instagram mereka. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....