Legenda Singapura Dilanggar Todak Mengajarkan Kepemimpinan Bijaksana
- 14 Sep 2026 09:17 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kisah Singapura Dilanggar Todak merupakan salah satu legenda Melayu yang termuat dalam Sulalatus Salatin atau Sejarah Melayu, karya klasik yang menggambarkan sejarah dan budaya masyarakat Melayu. Cerita tersebut tidak hanya menghadirkan kisah serangan ikan todak, tetapi juga menyampaikan kritik sosial serta pesan moral mengenai kepemimpinan dan kecerdasan.
Konon ceritanya pada masa pemerintahan Paduka Seri Maharaja di Singapura, masyarakat pesisir dikejutkan serangan mendadak ikan todak yang melompat dari laut dan menyerang penduduk. Serangan tersebut menyebabkan banyak rakyat menjadi korban sehingga kerajaan harus mencari strategi untuk menghentikan ancaman yang terus berlangsung tersebut.
Dalam menghadapi serangan todak, Paduka Seri Maharaja memerintahkan rakyat berdiri di tepi pantai dengan menggunakan betis sebagai benteng untuk menghadang ikan. Strategi tersebut ternyata tidak berhasil karena semakin banyak rakyat menjadi korban akibat serangan ikan todak yang berlangsung berulang kali.
Di tengah situasi tersebut, seorang anak laki-laki bernama Hang Nadim menyampaikan gagasan menggunakan batang pisang sebagai penghalang sepanjang kawasan pantai. Ketika ikan todak kembali menyerang, tubuh ikan tersangkut pada batang pisang sehingga lebih mudah ditangkap dan masyarakat akhirnya berhasil diselamatkan.
Keberhasilan Hang Nadim menyelamatkan rakyat justru memunculkan kecemburuan di kalangan pembesar istana yang merasa kecerdasannya dapat mengancam kekuasaan kerajaan. Para pembesar kemudian memengaruhi Paduka Seri Maharaja dengan mengatakan bahwa kecerdasan Hang Nadim berpotensi menjadi ancaman bagi pemerintahan pada masa mendatang.
Paduka Seri Maharaja akhirnya mengambil keputusan tragis dengan memerintahkan agar Hang Nadim dibunuh meskipun anak tersebut sebelumnya telah memberikan solusi yang menyelamatkan banyak rakyat. Keputusan tersebut menjadi gambaran tentang bahaya kepemimpinan yang tidak bijaksana ketika seorang pemimpin mudah dipengaruhi hasutan serta kepentingan kelompok tertentu.
Kisah Singapura Dilanggar Todak juga mengajarkan pentingnya mendengarkan suara rakyat tanpa membedakan usia, kedudukan, maupun latar belakang orang yang menyampaikan gagasan. Hang Nadim yang masih seorang anak mampu menunjukkan bahwa solusi cerdas dapat muncul dari siapa saja ketika pemimpin memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat.
Selain kritik terhadap kepemimpinan, legenda tersebut memperlihatkan bahaya iri hati dan politik istana yang dapat menghancurkan seseorang yang sebenarnya memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Warisan cerita ini tetap dipelihara dalam budaya Melayu dan diperkenalkan kepada generasi muda melalui pembelajaran sastra, sejarah, pameran, serta berbagai kegiatan kebudayaan.
Nama Hang Nadim kemudian dikenal dalam berbagai bentuk penghormatan budaya, termasuk penggunaan namanya sebagai nama Bandara Internasional Hang Nadim di Batam, Indonesia. Kisah tersebut hingga kini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang adil harus mampu menghargai kecerdasan, mendengarkan rakyat, serta mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang bijaksana. (AN)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....