Mengapa Warna Pink Identik dalam Perayaan Hari Valentine

  • 13 Feb 2026 18:30 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Memasuki bulan Februari, semesta seolah kompak bersalin rupa menjadi serba merah muda. Mulai dari deretan cokelat premium, lambaian pita, hingga buket bunga yang menghiasi etalase, semuanya merayakan dominasi warna pink yang ikonik.

Fenomena visual ini memicu sebuah tanya, bagaimana sebenarnya benang merah sejarah yang mengikat warna lembut ini dengan perayaan kasih sayang? Sebagai versi merah yang lebih kalem, pink membawa energi yang jauh lebih teduh.

Sejarah perjalanannya dimulai pada abad ke-18, khususnya di Prancis selama periode Rococo, ketika warna pastel menjadi tren di kalangan elite. Seniman seperti Jean-Honoré Fragonard dan François Boucher melukis adegan-adegan pacaran dan rayuan menggunakan warna merah muda lembut, nuansa mawar, dan rona pipi untuk menyampaikan kelembutan dan keintiman emosional.

Petunjuk visual ini menjadi dasar untuk menghubungkan warna merah muda dengan ekspresi sentimental. Pada saat itu, warna merah muda tidak secara inheren dikaitkan dengan gender tertentu.

Baik pria maupun wanita mengenakan sutra dan satin bernuansa merah muda di lingkaran aristokrat. Namun, keringanan dan asosiasi floranya terutama dengan bunga mawar membuatnya secara alami selaras dengan tema kecantikan dan kasih sayang.

Ketika Hari Valentine semakin populer pada abad ke-19, terutama melalui pertukaran kartu buatan tangan, kertas dan pita merah muda sering digunakan, memperkuat peran simbolisnya. Secara budaya, warna pink telah menjadi terkait erat dengan femininitas di masyarakat Barat, terutama sejak pertengahan abad ke-20 ketika warna pakaian yang spesifik untuk jenis kelamin mulai didefinisikan dengan lebih kaku.

Meskipun asosiasi ini telah berkembang dan ditantang dalam beberapa tahun terakhir, hal itu masih memengaruhi bagaimana gambar dan barang Hari Valentine dirancang dan sering kali menargetkan perempuan sebagai penerima maupun pembeli hadiah. Mainan berbulu berbentuk hati, lingerie, dan produk kecantikan yang dipasarkan untuk Hari Valentine sebagian besar menampilkan kemasan dan desain berwarna pink.

Diskusi tentang mengapa warna merah muda dikaitkan juga dengan Hari Valentine tidak akan lengkap tanpa membahas dampak budaya konsumen. Pada abad ke-20, perusahaan kartu ucapan, pembuat permen, dan peritel secara strategis mengadopsi merah muda sebagai tema utama dalam lini produk Valentine mereka.

Hallmark, yang didirikan pada tahun 1910, memainkan peran penting dalam menstandarisasi estetika kartu Valentine, sering menggunakan latar belakang, bingkai, dan ilustrasi berwarna merah muda. Warna ini identik dengan kepolosan dan cinta yang tumbuh dengan tulus.

Tak heran jika pink sering diandalkan untuk mengekspresikan kasih sayang yang 'luas'. Sebuah cinta yang tidak melulu soal asmara, tapi juga tentang koneksi manis antar sahabat dan ikatan emosional dalam keluarga."

Bayangkan merah sebagai pernyataan cinta yang berani dan penuh komitmen. Sebaliknya, pink adalah pelukan hangat yang penuh perhatian. Warna ini menjadi representasi sempurna bagi cinta yang manis, yang tumbuh bukan dari drama, melainkan dari kelembutan hati yang konstan.

Produsen permen kemudian mengikutinya. Merek seperti Russell Stover dan Whitman’s mengemas cokelat dalam kotak merah muda yang dihiasi hati dan Cupid.

Toko serba ada mulai menghias seluruh bagian dengan tampilan merah muda setiap bulan Februari, menciptakan lingkungan sensorik yang membiasakan konsumen untuk mengaitkan warna tersebut dengan cinta, pemberian hadiah, dan perayaan. Pencitraan merek yang konsisten selama beberapa dekade ini mengukuhkan merah muda sebagai warna default untuk barang-barang romantis. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....