Atlantis: Apakah Benar-Benar Ada di Bawah Laut

  • 19 Nov 2025 07:46 WIB
  •  Kupang

KBRN,Kupang: Kisah Kota Atlantis, peradaban maju yang konon tenggelam ke dasar laut dalam semalam, telah memikat para sejarawan, arkeolog, dan masyarakat umum selama ribuan tahun. Sumber utama kisah ini berasal dari tulisan filsuf Yunani, Plato, khususnya dalam dialognya Timaeus dan Critias. Menurut Plato, Atlantis adalah kekuatan maritim idealis yang berlokasi di luar Pilar-Pilar Herkules, yang kemudian menjadi sombong dan dihancurkan oleh para dewa karena keserakahan mereka.

Meskipun narasi Plato sering kali dianggap sebagai fiksi didaktis sebuah alat untuk mengilustrasikan teori politiknya tentang negara yang ideal banyak pihak bersikeras bahwa cerita tersebut harus memiliki dasar sejarah yang nyata. Pencarian lokasi Atlantis telah mengarah ke berbagai tempat, mulai dari Mediterania, Kepulauan Canary, hingga bahkan Amerika Selatan. Setiap lokasi yang diusulkan berusaha mencocokkan deskripsi geografis Plato dengan bukti geologis atau arkeologis.

Salah satu teori sejarah yang paling populer mengaitkan legenda Atlantis dengan letusan gunung berapi Thera sekitar tahun 1600 SM. Letusan ini menghancurkan sebagian besar pulau Santorini di Yunani dan memicu tsunami besar yang melanda peradaban Minoa di Kreta. Para pendukung teori ini percaya bahwa ingatan kolektif tentang bencana besar ini di Mediterania diwariskan dan dibesar-besarkan oleh Plato menjadi kisah Atlantis yang ideal.

Namun, bukti konkret yang membuktikan keberadaan kota metropolitan seperti yang digambarkan Plato, dengan teknologi dan arsitektur superiornya, tetap tidak ada. Mayoritas akademisi sepakat bahwa Plato menggunakan Atlantis sebagai alegori moral sebuah kisah peringatan tentang bahaya imperialisme dan kemewahan yang berlebihan, dibandingkan catatan sejarah yang akurat. Tujuan utama cerita ini adalah untuk mengkritik sifat manusia.

Terlepas dari statusnya sebagai mitos atau sejarah, daya tarik Atlantis terletak pada misteri abadi yang diwakilinya: kemungkinan adanya peradaban besar yang hilang. Kisah ini mengajarkan kita tentang siklus kebangkitan dan kejatuhan, dan berfungsi sebagai pengingat abadi bahwa bahkan kekayaan dan kekuatan terbesar pun bisa lenyap dalam sekejap karena bencana alam atau kehancuran moral. (ADM)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....