Tangis dari Perantauan, Doa Mahasiswa Flores bagi Tanah Kelahiran Segera Pulih
- 26 Agt 2026 16:08 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupnag - Gempa yang mengguncang Flores tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menghadirkan duka dan kecemasan bagi masyarakat, termasuk mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman. Francisca Eflani, mahasiswa Pendidikan Kimia Universitas Katolik Widya Mandira (UNIKA) Kupang asal Manggarai, Flores, menjadi salah satu yang merasakan dampak tersebut dari kejauhan.
Saat gempa terjadi, ia berada di Kupang, sementara keluarga tercintanya berada di kampung halaman. Menurut Francisca, dampak gempa sangat besar.
Sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan mengalami kerusakan sehingga pelayanan kepada para korban terganggu. Banyak korban yang harus mendapatkan penanganan di ruang terbuka karena fasilitas kesehatan tidak dapat berfungsi secara optimal.

“Banyak korban yang dilarikan ke rumah sakit. Namun karena rumah sakitnya mengalami kerusakan, terpaksa semua korban ditangani di luar atau di lapangan terbuka,” tuturnya.
Kondisi tersebut juga membuat tenaga kesehatan kewalahan menghadapi banyaknya korban. Selain fasilitas kesehatan, sejumlah fasilitas umum turut mengalami kerusakan yang berdampak pada aktivitas dan pelayanan masyarakat.
Di balik kerusakan bangunan, gempa juga meninggalkan luka yang lebih dalam. Kehilangan anggota keluarga dan orang-orang terkasih menjadi duka yang sulit digambarkan.
Sebagian masyarakat bahkan masih harus bertahan di pengungsian dengan keterbatasan makanan dan air bersih. Francisca mengaku rasa sedih dan cemas semakin kuat karena dirinya tidak dapat berada langsung bersama keluarga.
Ia hanya bisa memantau keadaan orang tua dan saudara-saudaranya melalui media sosial. “Sebagai mahasiswa yang saat ini sedang jauh dari keluarga, pastinya saya merasa sangat sedih, khawatir dan cemas. Saya hanya bisa memantau keadaan keluarga saya dari jauh,” ungkapnya.
Kondisi bencana juga berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi keluarganya. Kedua orang tua Francisca yang bekerja sebagai petani turut menghadapi kesulitan karena aktivitas mereka terganggu akibat situasi pascagempa.
Sebagai mahasiswa perantauan, kondisi tersebut menjadi beban tersendiri. Di satu sisi, ia harus tetap memenuhi kebutuhan selama menjalani perkuliahan di Kupang. Di sisi lain, keluarga di kampung juga membutuhkan biaya untuk memulihkan kehidupan mereka.
Francisca bersyukur masih dapat melanjutkan perkuliahan dan mendapatkan dukungan melalui program KIP Kuliah. Namun, ia mengaku tetap bergantung kepada orang tua ketika uang saku yang diterimanya tidak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, ia berharap pihak kampus maupun pengelola kos dapat memberikan perhatian dan kebijakan bagi mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana, termasuk kemungkinan keringanan atau kelonggaran pembayaran. “Bantuan dan pengertian seperti itu sangat berarti bagi kami, terutama ketika keluarga di kampung sedang berusaha untuk memulihkan kembali kondisi,” katanya.
Kesedihan Francisca semakin terasa ketika melihat foto dan video yang beredar di media sosial. Gambaran rumah-rumah yang rusak, masyarakat yang mengungsi, hingga warga yang berusaha menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi menjadi pemandangan yang membuatnya terpukul.
Ia menyebut kawasan Reo, tempat yang memiliki kedekatan emosional dengannya, juga terdampak. Warga berusaha mencari tempat yang lebih aman, termasuk menuju dataran tinggi dan kawasan hutan.
Di tengah rasa takut dan ketidakberdayaan dari kejauhan, Francisca hanya dapat mengirimkan doa kepada keluarganya. “Papa, Mama, dan adik-adik, sehat-sehat kamu di rumah. Semoga Tuhan selalu melindungi Papa, Mama, dan adik-adik serta semua yang ada di rumah,” ujarnya penuh haru.
Ia juga menyampaikan kerinduannya kepada keluarga yang hingga kini belum dapat dipeluk secara langsung. “Saya sangat sayang Mama, Papa, dan adik-adik. Saya sangat merindukan kalian. Saya sangat ingin peluk kalian untuk saat ini,” katanya.
Francisca berharap masyarakat Flores yang terdampak segera mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Ia juga berharap mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana tidak harus menghentikan atau mengorbankan pendidikan karena persoalan ekonomi.
Bagi Francisca, pemulihan Flores bukan hanya tentang membangun kembali rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga memulihkan harapan masyarakat yang kehilangan orang-orang tercinta serta memastikan anak-anak muda tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. “Untuk tanah Floresku, cepat pulih. Badai pasti berlalu,” katanya. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....