Menunggu Pintu Rumah Tenun Terbuka untuk Penenun Penkase Oeleta
- 27 Jul 2026 13:02 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Di sebuah sudut RT 15, Kelurahan Penkase Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang, bunyi alat tenun masih terdengar dari rumah-rumah warga. Satu demi satu benang dirangkai menjadi kain bermotif Bunga Sepe, motif yang kini telah dikenal sebagai ikon Kota Kupang. Pemandangan ini ditemui RRI saat berkunjung ke lokasi pada Rabu, 1 Juli 2026.
Di balik keindahan setiap helai kain, tersimpan cerita tentang perjuangan para perempuan penenun yang masih bekerja secara sederhana dari rumah masing-masing. Padahal, tak jauh dari tempat mereka menenun berdiri sebuah rumah tenun yang dibangun pemerintah khusus untuk mendukung aktivitas para perajin.
Sayangnya, bangunan tersebut hingga kini belum pernah difungsikan. Koordinator Kelompok Tenun Lasbaun, Amanda Sanlain, masih mengingat bagaimana kelompoknya menjadi satu-satunya yang berhasil menerjemahkan desain Motif Bunga Sepe ke dalam kain tenun pada tahun 2020.
Keberhasilan itu kemudian mengantarkan Motif Bunga Sepe ditetapkan sebagai ikon Kota Kupang. Sebagai bentuk dukungan, pemerintah membangun sebuah rumah tenun yang diharapkan menjadi pusat produksi dan pemasaran.
Namun harapan itu masih tertunda, selama rumah tenun belum dapat digunakan, sekitar 30 penenun yang tergabung dalam tiga kelompok tetap menenun dari rumah masing-masing. Mereka menggunakan alat tenun milik pribadi dan menjual hasil karya secara mandiri kepada pelanggan atau melalui toko-toko yang membutuhkan.
Bagi Yoko Beto, anggota Kelompok Tenun Mawar, rumah tenun bukan sekadar bangunan. Ia membayangkan tempat itu menjadi ruang berkumpul, berbagi keterampilan, menyimpan hasil produksi, hingga menerima wisatawan maupun pembeli yang ingin mengenal tenun khas Kota Kupang.
"Kami rindu menggunakan rumah itu. Kalau sudah bisa dipakai, kami tidak perlu lagi bekerja sendiri-sendiri di rumah. Pembeli juga lebih mudah datang dan melihat hasil tenun kami," tuturnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, semangat para penenun tetap terjaga. Mereka terus menghasilkan kain-kain bermotif Bunga Sepe sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya lokal. Kini mereka hanya berharap satu hal sederhana: agar rumah tenun yang telah lama berdiri tidak lagi menjadi bangunan yang kosong, melainkan benar-benar menjadi rumah bagi para penenun, tempat lahirnya karya-karya yang membawa nama Kota Kupang hingga ke berbagai daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....