Kelompok Tani Penaf Nasipanaf Hadapi Tantangan Air dan Pencurian
- 24 Mei 2026 19:24 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Aser Bekak Seorang Petani dari Kelompok Tani Penaf, Kamis, 21 Mei 2026 di Nasipanaf, Kota Kupang menyampaikan kondisi kelompoknya yang beranggotakan lima belas orang dengan latar belakang usia yang beragam dari tua hingga muda.
Kelompok yang merupakan singkatan dari Penfui Nasipanaf ini telah berdiri selama delapan tahun dan aktif mengelola usaha pertanian baik secara kelompok maupun individu di wilayah tersebut.
Aser Bekak menjelaskan bahwa setiap anggota memiliki tanggung jawab mengelola lahan masing-masing sekaligus terlibat dalam pengelolaan lahan kelompok secara gotong royong demi meringankan pekerjaan bersama. Ia menyebutkan bahwa luas lahan yang dikelolanya secara pribadi mencapai sekitar delapan are sementara lahan kelompok secara keseluruhan mencapai sekitar tiga puluh are.
Aser mengungkapkan bahwa lahan kelompok biasanya ditanami berbagai komoditas seperti jagung, umbi-umbian, pisang, dan kacang-kacangan yang menjadi sumber pangan utama bagi anggota kelompok. "Kegiatan penanaman dilakukan secara bersama-sama untuk lahan kelompok sedangkan lahan pribadi dikelola dengan prinsip saling membantu antar anggota," katanya pada RRI Kupang.
Aser Bekak menyampaikan bahwa kelompoknya menghadapi kendala utama berupa kekurangan air yang menyebabkan mereka hanya dapat menanam pada musim hujan guna menjaga ketahanan pangan keluarga. Pada musim kemarau, mereka terpaksa meninggalkan lahan dan hanya melakukan pengawasan untuk mencegah terjadinya kebakaran lahan yang sering terjadi di wilayah tersebut.
Dia menjelaskan bahwa lahan yang mereka kelola merupakan milik PT Angkasa Pura yang diberikan kepada masyarakat untuk diolah selama belum digunakan sehingga menjadi peluang sekaligus tantangan bagi kelompok tani. Selain itu, mereka juga menghadapi masalah pencurian hasil pertanian serta gangguan hewan ternak yang masuk ke lahan dan merusak tanaman meskipun sudah dipagari.
Aser mengatakan bahwa kelompoknya telah menerapkan sanksi bagi pemilik hewan ternak yang terbukti membiarkan hewannya masuk ke kebun sebagai bentuk efek jera agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Namun demikian, ia mengakui bahwa kasus pencurian masih sulit diatasi karena pelaku biasanya beraksi pada malam hari ketika kondisi kebun sedang lengah dari pengawasan.
Menurutnya, selama ini mereka mendapatkan pendampingan dari petugas penyuluh lapangan dari Dinas Pertanian Kota Kupang yang rutin memberikan edukasi terkait perawatan tanaman dan distribusi bantuan bibit unggul serta pupuk. Ia juga menyoroti tantangan perubahan musim hujan yang tidak menentu sehingga menyulitkan petani dalam menentukan waktu tanam yang tepat dan berpotensi menyebabkan gagal tanam maupun gagal panen.
Aser menyampaikan bahwa hasil panen kelompok tani Penaf bersifat fluktuatif tergantung pada curah hujan setiap musim, namun ia mengaku bersyukur karena pada tahun sebelumnya mereka pernah mencapai hasil hingga dua belas ton jagung dari seluruh lahan kelompok. "Tahun ini hasil panen mengalami penurunan menjadi sekitar empat koma lima ton akibat musim hujan yang lebih singkat sehingga tanaman belum sepenuhnya tumbuh optimal saat hujan sudah berhenti,"katanya.
Aser Bekak berharap pemerintah dapat terus memberikan dukungan berupa pendampingan, penyediaan alat pertanian, serta pengembangan tanaman hortikultura seperti sayuran, cabai, dan tomat agar produktivitas meningkat sepanjang tahun. Ia optimistis dengan dukungan penyuluh dan perhatian pemerintah, kelompok tani Penaf dapat berkembang lebih maju dalam mendukung ketahanan pangan serta meningkatkan ekonomi keluarga di Kota Kupang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....