Kaleb Naitboho, Petani Difabel yang Memberi Inspirasi
- 21 Mei 2026 00:00 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Keterbatasan fisik sering kali dianggap sebagai tembok besar yang menghalangi seseorang untuk produktif, namun, bagi Kaleb Naitboho, seorang pemuda penyandang disabilitas fisik asal Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), keterbatasan tersebut justru ditransformasikan menjadi ladang kekuatan dan kemandirian melalui sektor pertanian inklusif.
Dalam obrolan Akamsi di RRI Pro 4 Kupang, Rabu, 20 Mei 2026, Kaleb membagikan kisah perjuangannya sebagai seorang penyandang disabilitas kaki yang memilih untuk menjadi seorang petani.
Melalui ketekunan bercocok tanam, ia membuktikan bahwa bumi tidak pernah mendiskriminasi siapa pun yang ingin bekerja keras. Lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga petani membuat Kaleb akrab dengan dunia bercocok tanam, namun, setelah mengalami keterbatasan fisik pada kakinya, ia sempat dihadapkan pada pilihan hidup yang sulit.
Alih-alih menyerah dan terus bergantung pada orang lain, Kaleb memilih untuk bangkit. Ia tidak ingin menjadi seseorang yang menjadi beban bagi keluarganya, terlebih bagi sang Ibu dan adiknya.
"Saya ingin mandiri dan tidak mau terus bergantung pada orang lain. Saya ingin buktikan saya tetap bisa bekerja dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat," ujarnya.
Kaleb memutuskan terjun ke dunia pertanian karena merasa bidang ini memberikan kebebasan yang tidak ia temukan di sektor kerja formal. Di kebun, ia bisa dekat dengan alam sekaligus mengatur ritme dan metode kerjanya sendiri sesuai dengan kemampuan fisiknya.
Perjalanan Kaleb di awal-awal bertani tentu tidak berjalan mulus. Mengolah tanah dengan kondisi kaki yang terbatas menuntut energi yang luar biasa besar.
"Awal-awal mulai bertani sulit sekali. Sebelum tahu cara yang pas, saya cepat lelah dan sering sakit badan. Hasilnya pun belum banyak, tetapi saya harus terus mencoba," katanya.
Kini, kerja keras itu berbuah manis. Kaleb aktif menanam berbagai jenis sayuran seperti selada, pakcoy, terong, tomat, hingga paria, dan hebatnya lagi, seluruh sayuran yang dihasilkan dari kebunnya merupakan produk pertanian organik tanpa bahan kimia.
Bersama kelompok taninya yang dibimbing oleh mentor lokal dari P4S Bescam Petani, Arnold Sanam, Kaleb memproduksi sendiri pupuk bokasi organik menggunakan campuran kotoran sapi dan kotoran ayam. Metode alami ini tidak hanya menghasilkan sayuran yang lebih sehat bagi konsumen, tetapi juga menjaga keberlanjutan struktur tanah di daerahnya.
Dahulu, sebelum mandiri secara ekonomi, Kaleb mengaku sempat kebingungan bagaimana cara mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Namun saat ini, roda ekonomi Kaleb berputar kencang berkat jaringan pemasaran yang semakin luas.
Sayuran organik hasil panen Kaleb kini diserap oleh pasar formal, salah satunya masuk ke program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Kimasi, Kabupaten Kupang. Selain itu, Kaleb juga aktif memasarkan hasil buminya secara mandiri ke sekolah-sekolah (SMA), puskesmas, hingga kantor-kantor dinas pemerintahan seperti Kantor Pertanian setempat.
Kemudahan mobilitas dan pemasaran ini tidak lepas dari intervensi pemerintah. Pada tahun 2023, Kaleb mendapatkan bantuan berupa motor roda tiga (Viar) dari pemerintah daerah. Bantuan kendaraan niaga tersebut menjadi titik balik penting yang meningkatkan efisiensi kerjanya secara drastis.
"Sebelum dapat bantuan, saya bingung sendiri mau bagaimana cari uang. Tapi setelah dapat bantuan, saya bisa berjuang. Puji Tuhan, sampai sekarang masih bisa cari uang sendiri untuk membantu kebutuhan mama dan adik di rumah," ujar Kaleb, yang kini menjadi tulang punggung keluarga.
Menjadi petani difabel di tengah masyarakat tentu tidak luput dari pandangan miring atau stigma negatif. Kendati demikian, Kaleb memilih untuk menutup telinga dari komentar yang mematahkan semangat, baginya makna berkebun sangatlah mendalam.
"Berkebun itu tidak memandang fisik. Saya tidak terpengaruh pada orang lain yang berbicara tentang kekurangan saya. Kekurangan ini tidak menjadi sebuah halangan,” ujarnya tegas.
Kaleb juga kerap kali mengajak rekan-rekan sesama penyandang disabilitas di lingkungannya untuk ikut turun ke kebun dan berkarya. Meski ia mengakui masih banyak rekan-rekannya yang menolak karena merasa minder atau belum siap, Kaleb tidak berhenti berharap agar ekosistem pertanian inklusif ini bisa terus berkembang.
Ketika ditanya mengenai mimpinya ke depan, pemuda yang selalu mengawali harinya dengan doa ini mengaku ingin terus memperluas usahanya. Jika saat ini ia masih mengelola lahan bersama mentor dan kelompoknya, target Kaleb selanjutnya adalah mampu memiliki dan mengelola lahan perkebunan mandiri secara penuh.
Ada sebuah pesan pemantik semangat yang mendalam, yang disampaikan Kaleb bagi seluruh masyarakat, khususnya teman-teman difabel yang masih bersembunyi di balik rasa kurang percaya diri. "Untuk teman-teman penyandang disabilitas, jangan merasa rendah diri. Cari jalan yang cocok, tekuni, dan buktikan kamu bisa berguna. Keterbatasan bukan penghalang untuk sukses,” katanya.
Kisah Kaleb Naitboho adalah cerminan nyata dari esensi pertanian inklusif. Sektor pertanian bukan sekadar tentang memproduksi pangan, melainkan tentang bagaimana menyediakan ruang yang adil, setara, dan memberdayakan bagi setiap tangan yang ingin menanam, tanpa memandang keterbatasan fisik. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....