Gunung Berapi, Arsitek Alam yang Membangun Kehidupan

  • 11 Jul 2025 06:43 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang: Gunung berapi bukan sekadar simbol kehancuran dan bencana, tetapi juga merupakan arsitek geologi Bumi yang telah membentuk wajah planet ini selama miliaran tahun. Lebih dari 80 persen permukaan Bumi terbentuk dari aktivitas vulkanik yang masif, mulai dari dasar laut hingga daratan tinggi.

Sungai lava yang mengalir dari kawah gunung dapat menghancurkan lanskap sekitarnya, namun seiring waktu, batuan beku tersebut mulai diurai oleh unsur alam dan berubah menjadi tanah yang subur. Di balik letusan-letusan yang menghancurkan, gunung berapi menyimpan peran penting dalam membentuk ekosistem.

Lava yang mengeras menyimpan mineral penting, dan ketika hancur oleh hujan, angin, serta aktivitas biologis, ia melepaskan nutrisi ke dalam tanah. Inilah mengapa daerah vulkanik sering menjadi kawasan pertanian yang sangat subur, seperti di lereng Merapi, Etna, atau Gunung Fuji.

Natgeo mencatat, saat ini, terdapat sekitar 1.500 gunung berapi yang masih dianggap berpotensi aktif di seluruh dunia. Dari jumlah itu, sekitar 161, atau lebih dari 10 persennya berada di wilayah Amerika Serikat dan juga di Antartika.

Namun, tidak semua gunung berapi bersifat sama. Beberapa diantaranya meletus dengan dahsyat, seperti Gunung St. Helens di AS pada tahun 1980, sementara lainnya menyemburkan lava secara perlahan, seperti Gunung Kilauea di Hawaii tahun 2018.

Perbedaan-perbedaan ini disebabkan oleh reaksi kimia yang mendorong aktivitas lelehan. Erupsi efusif lebih umum terjadi ketika magma kurang kental, atau encer, yang memungkinkan gas keluar dan magma mengalir menuruni lereng gunung berapi.

Namun, letusan eksplosif terjadi saat batuan cair yang kental memerangkap gas, membangun tekanan hingga terlepas dengan keras. Mayoritas gunung berapi terbentuk di sepanjang batas lempeng tektonik Bumi, yaiut bagian litosfer yang terus bergeser dan bertabrakan.

Di zona subduksi, satu lempeng menukik ke bawah lempeng lainnya, menyebabkan tekanan dan meningkatkan suhu. Air yang terperangkap di bebatuan ini akan dilepaskan, sehingga menurunkan titik leleh batuan dan membentuk magma yang kemudian naik ke permukaan.

Proses ini menciptakan rantai gunung berapi aktif di sepanjang batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik. Namun, gunung berapi juga bisa terbentuk jauh dari batas lempeng melalui proses yang disebut vulkanisme hotspot.

Di titik panas ini, magma menembus kerak bumi dan membentuk gunung berapi di atas lempeng yang terus bergerak. Contoh paling terkenal adalah rangkaian gunung berapi di Kepulauan Hawaii.

Gunung berapi hadir dalam berbagai bentuk, misalnya gunung berapi komposit (stratovolkano) seperti Gunung Fuji yang terbentuk dari lapisan-lapisan lava, abu, dan material piroklastik. Gunung perisai, seperti Mauna Loa, memiliki bentuk landai dan luas, terbentuk dari aliran lava yang sangat encer.

Sementara itu, gunung kerucut cinder seperti di Kepulauan Canary terbentuk dari lontaran cinder atau batuan lava yang padat dan kecil. Ada pula gunung retakan, yang tidak membentuk kerucut melainkan meletus sepanjang retakan panjang di kerak bumi, contohnya dapat ditemukan di Monumen Nasional Craters of the Moon, AS.

Letusan gunung berapi menimbulkan banyak bahaya selain aliran lava. Penting untuk mematuhi imbauan pemerintah setempat selama letusan aktif dan mengevakuasi wilayah jika diperlukan.

Aliran piroklastik, campuran gas panas, batuan, dan abu yang meluncur dengan kecepatan hingga 720 km/jam, bisa memusnahkan kota dalam hitungan menit. Peristiwa ini menghancurkan kota Pompeii dan Herculaneum pada tahun 79 M setelah letusan Gunung Vesuvius.

Demikian pula, aliran lumpur vulkanik yang disebut lahar bisa sangat merusak. Gelombang lumpur dan puing yang mengalir deras ini dapat mengalir deras menuruni lereng gunung berapi, dan mengubur seluruh kota.

Abu merupakan bahaya vulkanik lainnya, karena abu vulkanik terbuat dari pecahan batu tajam dan kaca vulkanik yang masing-masing berdiameter kurang dari dua milimeter. Jika dihirup, dapat merusak paru-paru, dan dalam jumlah besar bisa meruntuhkan atap bangunan, memutus aliran listrik, serta mengganggu transportasi udara secara masif.

Meski demikian, gunung berapi memberikan peringatan sebelum meletus. Tanda-tanda awalnya termasuk gempa kecil, pembengkakan sisi gunung, dan peningkatan gas yang keluar dari lubang gunung. Di Amerika Serikat, Survei Geologi AS (USGS) mengoperasikan lima stasiun pemantauan, termasuk Observatorium Gunung Berapi Alaska.

Namun, meskipun teknologi terus berkembang, tak ada cara pasti untuk memprediksi kapan gunung berapi akan meletus. Gunung berapi tidak memiliki “jadwal tetap” dan tidak bisa disebut terlambat hanya karena belum meletus dalam waktu lama.

Letusan paling mematikan yang tercatat terjadi pada tahun 1815, saat Gunung Tambora di Indonesia meletus. Letusan itu membentuk kaldera selebar 6 km dan melontarkan gas serta abu ke atmosfer hingga ketinggian 45 km.

Sekitar 10.000 orang tewas secara langsung, sementara dampak iklimnya menyebabkan udara dingin, karena abu dan gas vulkanik yang terlontar ke atmosfer mengaburkan sinar matahari dan meningkatkan reflektivitas Bumi, mendinginkan permukaannya, dan menyebabkan "tahun tanpa musim panas” di Eropa dan Amerika Utara. Kelaparan dan wabah yang menyusul menewaskan lebih dari 80.000 orang, dan fenomena ini bahkan mempengaruhi budaya, dimana cuaca kelam dan suasana muram yang menginspirasi Mary Shelley menulis novel horor klasik Frankenstein.

Meskipun telah terjadi beberapa letusan besar dalam sejarah yang tercatat, letusan gunung berapi saat ini tidak lebih sering terjadi dibandingkan satu dekade atau bahkan satu abad yang lalu. Gunung berapi, dengan segala kedahsyatannya, bukan hanya tentang letusan dan kerusakan, tetapi juga awal kehidupan, penyubur tanah, pencetak sejarah, dan pengingat bahwa Bumi selalu hidup dan bergerak. (JR)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....