Benang yang Mengikat Hati Pemimpin dan Rakyat
- 10 Jun 2025 17:38 WIB
- Kupang
KBRN, Rote: Dalam suasana siang yang tenang di Desa Ndaonuse, Kecamatan Ndao Nuse, langkah Wakil Bupati (Wabup) Rote Ndao, Apremoi Dudelusy Dethan, menyentuh tanah dengan niat tulus. Ia datang bukan untuk memberi perintah, bukan pula untuk mendikte, melainkan untuk mendengar, merasakan, dan belajar di hadapan warganya sendiri.
Di sekelilingnya, para perempuan penenun menyambut dengan senyum dan tangan yang terampil. Dari jemari-jemari merekalah, benang-benang tipis berubah menjadi karya yang sarat makna.
Wakil Bupati Rote Ndao Apremoi Dudelusy Dethan, duduk di tikar pandan, berhadapan dengan alat tenun tradisional yang sederhana. Dengan tangan yang masih kaku, Wakil Bupati Apremoi mencoba menenun.
"Sangat luar biasa ini pertama kali mama wakil memegang alat tenunan tentu kaku tapi yang buat merasa bangga di Ndao anak-anak seusia tingkatan Sekolah Dasar sudah bisa tenun, itu sesuatu yang sangat luar biasa" kata Wakil Bupati Apremoi.
Gerakannya belum seirama, tapi semangatnya menyatu dengan suara kayu yang bersentuhan. Ia ingin merasakan sendiri bagaimana perjuangan perempuan-perempuan ini menjaga warisan leluhur mereka, sebuah budaya yang tak sekadar indah, tapi juga penuh nilai dan kebanggaan.
“Saya sangat menghargai budaya ini,” ucap Apremoi pelan, matanya memperhatikan benang yang mulai terjalin. “Menenun bukan sekadar keterampilan, ini warisan yang harus dipertahankan dan sampai kapanpun akan terus hidup,” kata Wakil Bupati Rote Ndao Apremoi Dudelusy Dethan, saat diwawancarai RRI, Sabtu (7/6/2025).
Masyarakat Pulau Ndao dikenal setia menjaga nilai-nilai budaya. Menenun adalah bagian dari kehidupan, dari doa yang ditanam dalam setiap simpul, dari harapan yang dililit di antara motif dan warna.
Di desa ini, hampir setiap perempuan tahu menenun, seolah benang itu diturunkan bersama kasih dan ketekunan. Kehadiran Apremoi hari itu bukan untuk memberi janji, tapi menunjukkan kepedulian yang nyata.
Ia tidak berdiri di atas, melainkan duduk sejajar. Ia tidak hanya menyapa dengan kata-kata, tapi dengan hati yang ikut belajar.
“Saya merasa belajar banyak dari mereka, saya juga ingin belajar hingga menghasilkan satu karya tenunan sendiri,” ujarnya. “Menenun mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan cinta pada akar budaya,” ucap Apremoi.
Dalam setiap tarikan benang, ada kisah yang terjalin. Dan siang itu, sebuah kisah baru ikut ditenun, tentang seorang pemimpin yang merendah untuk mengenal lebih dekat warganya, tentang rakyat yang menyambut pemimpinnya bukan dengan protokol, tapi dengan kasih dan warisan yang tak ternilai.
Sore pun datang perlahan, membawa angin laut yang lembut. Tapi momen itu tetap hangat. Di antara benang-benang yang dijalin, ada ikatan yang lebih kuat dari sekadar kain, ikatan rasa, hormat, dan harapan.
Benang itu bukan hanya milik para penenun. Ia kini juga telah mengikat hati seorang pemimpin dengan rakyatnya. (LA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....