Dilema Konservasi Mutis : Pelestarian atau Eksploitasi Sumber Daya?

  • 19 Feb 2025 21:29 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang : Kawasan Mutis, yang selama ini dikenal sebagai benteng terakhir kelestarian alam di Pulau Timor, kini menjadi pusat perdebatan setelah pemerintah menetapkannya sebagai Taman Nasional. Keputusan ini memicu pro dan kontra, terutama di kalangan masyarakat adat yang telah turun-temurun menjaga kawasan tersebut sebagai hutan adat.

Lif Oematan, salah satu tokoh masyarakat adat Mutis, menegaskan bahwa perubahan status kawasan tersebut menjadi taman nasional menimbulkan kekhawatiran serius bagi masyarakat adat. Menurutnya, Mutis adalah sumber kehidupan, bukan sekadar kawasan konservasi, tetapi juga pusat budaya dan spiritual masyarakat Timor.

“Mutis itu adalah sumber air untuk beberapa wilayah di daratan Timor. Mutis, kami orang timor anggap itu taman firdaus bagi kami. Gunung Mutis ibarat kami punya kepala, kalau kepala sakit anggota tubuh tidak bisa bergerak. Kalau kepala sakit semua pasti lumpuh,” ujar Lif Oematan.

Kekhawatiran masyarakat adat bukan tanpa alasan. Mereka khawatir bahwa perubahan status menjadi taman nasional justru akan membuka peluang bagi eksploitasi sumber daya alam dan mengganggu keseimbangan ekosistem yang telah dijaga secara turun-temurun oleh komunitas adat. Bagi mereka, konservasi terbaik adalah yang berbasis pada kearifan lokal, bukan dengan intervensi kebijakan dari luar yang belum tentu memahami konteks sosial dan budaya setempat.

Ketua Forum Sejarah dan Budaya Timor, Keyatanus Abi, turut menyuarakan penolakan terhadap status baru Mutis sebagai Taman Nasional. Ia menilai kebijakan ini dibuat tanpa mempertimbangkan keberlanjutan hidup masyarakat adat.

“Kebijakan pusat membuat orang Timor susah. Kami menolak Taman Nasional karena di situ adalah tempat terakhir bersemayamnya para leluhur kami,” ungkap Keyatanus Abi.

Bagi masyarakat adat Mutis, Gunung Mutis bukan sekadar lanskap alam yang perlu dilindungi, tetapi juga simbol identitas, spiritualitas, dan keberlanjutan budaya mereka. Dengan demikian, perjuangan mereka bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga hak atas tanah adat yang telah mereka jaga selama berabad-abad.

Hingga kini, polemik ini masih bergulir. Masyarakat adat terus menyerukan agar kawasan Mutis dikembalikan menjadi hutan adat seperti sediakala, dengan pengelolaan yang mengutamakan kelestarian alam berdasarkan kearifan lokal mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....