Dari Rak Buku ke Peluang Usaha, Hobi Membaca Bisa Jadi Ladang Kreativitas

  • 09 Agt 2026 20:20 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Kisah inspiratif datang dari Elysa Anjarina, seorang bibliofil atau penyuka buku asal Jawa Timur yang kini menetap di Kupang. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai karyawan kantoran dari Senin hingga Jumat, ia berhasil menyulap kegemarannya membaca menjadi sebuah peluang usaha yang menjanjikan melalui platform TikTok.

Dalam wawancara bersama RRI Kupang pada Sabtu, 8 Agustus 2026 dalam segmen acara Muda Kreatif, Elysa mengisahkan perjalanan ini bermula dari kebiasaannya mengoleksi buku sejak kecil, yang kemudian mendorongnya untuk membagikan koleksi pribadinya kepada sesama pencinta literatur. Kecintaannya terhadap dunia literatur tumbuh secara alami berkat dorongan sang ayah yang sering membawanya ke toko buku bekas di masa kecil.

"Saya suka baca buku dari kecil karena emang di rumah ayah saya tuh suka baca buku, jadi emang ada beberapa koleksi buku juga dan dari kecil emang sudah didekatkan dengan buku kayak buku anak-anak begitu," ujar Elysa mengenang masa lalunya. Kebiasaan membaca mandiri tersebut terus terbawa hingga ia dewasa dan merantau ke Kupang untuk bekerja.

Awal mula terjun ke dunia bisnis buku online pun terjadi tanpa perencanaan yang matang dan berawal dari kebutuhan mendesak saat hendak pindah tempat tinggal. Dengan memanfaatkan platform TikTok yang awalnya hanya memiliki segelintir pengikut, ia tidak menyangka unggahan tumpukan buku pribadinya mendadak viral dan diserbu pembeli.

"Cuman saya foto aja buku saya tumpuk terus per itemnya saya foto satu-satu kasih harga udah, terus saya tinggal ngerjain yang lain, tahu-tahu HP tuh bunyi terus," kenang Elysa antusias. Antusiasme warganet dari Kupang dan sekitarnya terhadap buku bekas maupun baru ternyata sangat tinggi, jauh melampaui ekspektasi awal sang pemilik lapak.

Beragam genre mulai dari fiksi ringan, slice of life, hingga buku-buku berat bertema sosial dan sejarah karya Pramoedya Ananta Toer laris manis diserbu pembaca. Bahkan, banyak pelanggan rela datang dari luar kota seperti Flores dan Rote demi mendapatkan buku impian mereka di lapak online milik Elysa.

Di balik kesuksesan usahanya, perempuan berlatar belakang pendidikan sosial humaniora ini tentu menghadapi berbagai tantangan teknis dalam berniaga. Hambatan terbesar yang sering ia hadapi bukanlah rendahnya minat baca, melainkan kendala distribusi logistik pengiriman dari luar pulau serta penentuan harga yang tetap terjangkau.

"Tantangan sih menurut saya bukan dari segi minat bacanya ya, karena jujur minat baca warga Kupang tuh sangat tinggi, yang bikin agak pusing itu untuk pemilihan harga dan masalah eksternal dari jasa pengirimannya," jelas Elysa.

Selain tantangan distribusi, ia juga sangat prihatin dengan maraknya peredaran buku bajakan di ruang digital yang sempat merugikan dirinya sebagai konsumen. Berdasarkan pengalaman pribadinya yang pernah tertipu membeli buku non-orisinal, Elysa selalu bersikap jujur kepada para pelanggannya mengenai keaslian produk yang ia jual.

Kejujuran dan transparansi inilah yang justru membangun kepercayaan kuat di antara para pelanggan setianya di Kupang. Kini, bisnis buku yang dinamai dengan semangat literasi tanpa batas tersebut tidak hanya menjadi sumber penghasilan tambahan, tetapi juga wadah komunitas bagi sesama pembaca.

Melalui hobi yang ditekuni secara konsisten, Elysa Anjarina membuktikan bahwa ketekunan mampu mengubah lembaran-lembaran kertas di rak buku pribadi menjadi sebuah pintu kesuksesan. "Jadi apa yang dulu sudah dipelajari sekarang dipraktikin lagi, gimana cara marketing narik pelanggan sama atur harga," tutupnya. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....