Akui Stok Terbatas, Pangkalan Minyak Tanah Enggan Tambah Kuota

  • 05 Agt 2026 07:27 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Keterbatasan kuota minyak tanah bersubsidi masih menjadi persoalan di tingkat pangkalan. Pemilik pangkalan minyak tanah, Stefanus Manafe, mengungkapkan bahwa jatah yang diterimanya saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat di wilayah pelayanannya.

Stefanus, yang mengelola pangkalan di Jalan Kerondong Nomor 29, RT 4/RW 2, menerima pasokan dari PT Mata Rantai Kupang. Saat ini, pangkalannya memperoleh alokasi tiga drum minyak tanah per minggu atau sekitar 12 drum per bulan.

Kuota tersebut didistribusikan kepada warga di tiga wilayah, yakni RT 4, RT 5, dan RT 6. Setiap warga yang memperoleh kupon berhak membeli 10 liter minyak tanah.

"Saya melayani lebih dari seratus kepala keluarga dari tiga RT. Kadang kuotanya memang kurang, dan itu yang sering memicu protes dari masyarakat," ujar Stefanus.

Untuk menghindari antrean panjang dan tudingan adanya warga yang tidak kebagian, Stefanus menerapkan sistem pembagian kupon secara serentak. Kupon hanya dibagikan setiap Sabtu pukul 10.00 WITA.

Pengumuman sistem jadwal Kupon

Menurutnya, sebelumnya tidak ada jadwal pasti sehingga warga datang setiap hari untuk menanyakan kupon. Kondisi itu justru menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

"Saya buat jadwal supaya semua punya kesempatan yang sama. Kalau terlambat mengambil kupon, ya memang tidak kebagian. Jangan sampai nanti datang marah-marah ke pangkalan karena kupon sudah habis," katanya.

Stefanus menjelaskan, jadwal penyaluran minyak tanah mengikuti jadwal dari agen yang masuk setiap hari Rabu sebanyak empat kali dalam sebulan. Menariknya, Stefanus mengaku sebenarnya pernah menerima kuota lebih besar, yakni lima drum per minggu.

Namun, saat itu penjualan tidak selalu habis karena penggunaan kompor gas masih belum sebanyak sekarang. Akibatnya, kuota kemudian dikurangi menjadi tiga drum.

Ia mengaku enggan meminta penambahan kuota meskipun saat ini permintaan masyarakat meningkat. Alasannya, kontrak dengan agen mengharuskan seluruh pasokan diambil, sehingga jika stok tidak habis terjual, pangkalan harus menanggung risiko penyimpanan.

"Dulu lima drum seminggu saja kadang tidak habis. Sekarang kalau minta tambah kuota lalu ternyata tidak habis, yang rugi saya juga karena sesuai kontrak tetap harus ambil semua," ujar Stefanus.

Menurut Stefanus, sistem kupon merupakan cara paling efektif agar distribusi minyak tanah bersubsidi tetap tepat sasaran. Warga yang benar-benar membutuhkan diharapkan datang lebih awal untuk mengambil kupon.

Ia juga memastikan tidak melayani pembelian dari luar wilayah. Seluruh penerima kupon telah terdata berdasarkan Kartu Keluarga (KK) dan berasal dari RT 4, RT 5, serta RT 6, Kelurahan Oetete. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....