Asal Muasal Thrifting Dan Ragam Istilah Di Nusantara
- 05 Nov 2025 12:54 WIB
- Kupang
KBRN,Kupang : saat ini viral Kembali mengenai thrifting atau pakaian bekas impor yang masuk ke Indonesia, dimana Menteri keuangan Republik Indonesia saat ini Pak Purbaya melarang keras masuknya pakain bekas impor ini ke Indonesia, karena diisukan dapat merusak brand lokal dan menghambat tumbuh kembang nya ekonomi Indonesia.
Namun tahukah kamu asal muasal dari thrifting itu sendiri? dan Ragam Istilah di Nusantara.
Berikut penjelasannya :
Asal Muasal Thrifting
Dikutip dari Time.com bahwasanya Thrifting sudah dikenal sejak abad ke-19 di negara-negara Barat. Pada masa itu, lembaga amal seperti Goodwill Industries dan The Salvation Army di Amerika Serikat membuka toko barang bekas untuk membantu masyarakat kurang mampu. Dari sinilah budaya thrift shop atau toko barang bekas mulai berkembang dan akhirnya menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban di berbagai negara.
Seiring perkembangan zaman dan tren media sosial, thrifting berubah dari sekadar kegiatan hemat menjadi bagian dari fashion berkelanjutan (sustainable fashion). Banyak anak muda kini menjadikan thrift shopping sebagai hobi, bahkan sumber penghasilan dengan menjual kembali barang-barang hasil thrift.
Istilah Thrifting di berbagai daerah
Di Indonesia, budaya membeli barang bekas sebenarnya sudah lama dikenal, hanya saja dengan sebutan yang berbeda-beda di tiap daerah. Berikut beberapa istilah lokal yang digunakan:
· Jakarta dan sekitarnya ( Preloved ) : dikenal dengan istilah baju second atau baju preloved.
· Bandung ( Cimol ) : sering disebut thrift shop atau cimol (mengacu ke Pasar Cimol Gedebage, salah satu pusat barang bekas terkenal).
· Surabaya ( Awul-Awul ) : masyarakat biasa menyebutnya awul-awul, karena berasal dari kata “ngawul” yang berarti mengaduk atau membongkar-bongkar tumpukan pakaian bekas.
· Makassar dan sekitarnya ( Cakar ) : dikenal dengan sebutan cakar (singkatan dari “cap karung”), karena barang bekas impor biasanya dikemas dalam karung besar.
· Sumatera (Bale ): sebagian masyarakat menyebutnya bale atau bale-bale, mengikuti istilah dari Malaysia “bale” yang berarti karung besar berisi pakaian bekas impor.
· Bali (Monza ) : “Monza” berasal dari Pasar Monza, singkatan dari “Monumen Nasional”, yang awalnya merujuk pada Monumen Bajra Sandhi di Denpasar, Bali. Di sekitar area monumen tersebut dulunya terdapat banyak penjual pakaian bekas impor (baju thrift), terutama dari Korea, Jepang, dan Amerika. Karena banyaknya pedagang baju bekas di kawasan itu, masyarakat Bali kemudian menyebut kegiatan membeli pakaian bekas sebagai “belanja di Monza” atau cukup dengan istilah “beli Monza”
· Kalimantan Barat ( Lelong ) : thrift di Pontianak di kenal dengan istilah “Lelong” Kata lelong berasal dari bahasa Melayu, yang berarti barang yang dijual murah atau dilelang. Dalam praktiknya, kata ini digunakan untuk menyebut barang-barang bekas impor yang dijual dengan harga sangat terjangkau — sering kali datang dalam karung besar (disebut bale atau cap karung).
· Kupang ( NTT ) ( Rombengan ): biasanya di sebut dengan nama Rombengan atau disingkat menjadi RB, Kata rombengan sendiri berasal dari bahasa Indonesia yang berarti barang bekas atau pakaian yang sudah tidak baru. Dalam konteks lokal Kupang, istilah ini merujuk pada pakaian bekas impor yang dijual murah di pasar atau toko-toko kecil, mirip dengan konsep thrift shop di kota besar.
Jadi Thrifting bukanlah hal yang baru bagi masyarakat kita, namun sudah ada semenjak puluhan tahun yang lalu, dan seiring berjalannya waktu Thrifting dengan Ragam Istilah di berbagai daerah menjadi populer dan di gemari oleh penikmat fashion. (TP)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....