Relawan Dompet Dhuafa NTT Kisahkan Duka Penyintas Gempa Flores
- 22 Sep 2026 09:15 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan duka sekaligus tantangan bagi masyarakat yang terdampak. Di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih, warga harus menghadapi guncangan gempa berulang, kerusakan rumah, serta rasa cemas akan keselamatan keluarga mereka.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran nyata yang disaksikan tiga relawan Dompet Dhuafa NTT, yakni Nurlia Angse, Melan Isandra, dan Hidayat Ratuloly, saat menjalankan misi kemanusiaan di wilayah terdampak. Kepada RRI dalam wawancara Kita Indonesia pada Senin, 21 September 2026, Hidayat menuturkan, perjalanan menyusuri kawasan terdampak menjadi pengalaman emosional ketika melihat rumah-rumah roboh, anak-anak mengalami trauma, dan orang tua masih dibayangi ketakutan.
Hidayat mengungkapkan, Flores yang dikenal dengan keindahan alamnya harus menghadapi ujian bertubi-tubi, mulai dari erupsi Gunung Lewotobi yang belum usai hingga gempa bermagnitudo 7,7. “Sepanjang jalan itu, rumah-rumah roboh, kemudian anak-anak trauma, orang tua juga trauma,” ungkap Hidayat, menggambarkan suasana yang ia temui saat tiba di lokasi.
Ketiganya membagikan cerita pilu, gambaran guncangan susulan yang terjadi hampir setiap saat membuat warga berada dalam cengkeraman trauma dan kecemasan yang mendalam. “Setiap menit dan setiap detik itu rasanya seperti gempa, sampai-sampai warga takut kembali ke rumah dan memilih tetap di luar,” tutur Nurlia.
Di kawasan pesisir, banyak rumah warga hancur rata dengan tanah sehingga mereka terpaksa mendirikan tenda darurat seadanya di halaman rumah masing-masing. Bermalam di bawah tenda tipis tanpa alas yang memadai, keterbatasan selimut, serta krisis air bersih kian memperberat perjuangan para pengungsi di lokasi bencana.
Rasa takut terutama saat malam tiba memicu gangguan tidur berat serta memperburuk kondisi kesehatan fisik para lansia dan anak-anak. Kebutuhan akan bimbingan psikologis menjadi sangat mendesak karena bayangan gempa susulan yang terus-menerus datang membayangi pikiran mereka.
Tim relawan yang menembus desa-desa terisolasi mendapati banyak pengungsi mulai terserang infeksi saluran pernapasan, hipertensi, hingga luka fisik yang belum sempat tertangani. “Bahkan untuk sekadar masuk ke dalam tenda pengungsian saja ada warga yang merasa takut karena trauma guncangan,” ungkap Nurlia menggambarkan kepanikan warga.
Dalam pelayanan tersebut, para relawan tidak hanya hadir membawa bantuan, tetapi juga berupaya memberikan dukungan bagi masyarakat yang masih berjuang memulihkan diri dari dampak bencana. Ketiganya menegaskan bahwa kekompakan tim merupakan kunci utama dalam mengatasi berbagai tantangan medan.
Evaluasi dan koordinasi yang digelar setiap malam membantu mereka membagi tugas penyaluran bantuan logistik serta pemeriksaan kesehatan warga secara merata. Meski masa tugas mereka di Flores berakhir pada 28 Agustus, pengalaman mendampingi para penyintas gempa memberikan pelajaran hidup serta rasa syukur yang mendalam bagi para relawan muda ini.
Bagi mereka, menjadi seorang relawan adalah tentang kesiapan untuk mengabdi kapan saja dan di mana saja demi merawat nilai-nilai kemanusiaan. Pengalaman mendampingi penyintas gempa Flores bukan sekadar perjalanan pengabdian, melainkan pelajaran tentang empati, ketangguhan, dan arti hadir bagi sesama. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....