Solar School, Langkah Inovatif Bernardino Aditya Lodo Advokasi Energi Terbarukan
- 14 Sep 2026 09:13 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Pemanfaatan energi matahari menjadi perhatian Bernardino Aditya Lodo, mahasiswa Program Studi S1 Hukum Universitas Merdeka Malang asal Mamumere, NTT yang pernah menjadi anggota Parlemen Remaja DPR RI Dapil NTT 1 tahun 2025. Melalui program Solar School, Aditya mendorong sekolah memanfaatkan energi matahari sebagai sumber listrik alternatif sekaligus langkah sederhana untuk menghemat penggunaan energi listrik konvensional.
Kepada RRI Sabtu, 12 September 2026, Aditya menjelaskan gagasan terkait Solar School berangkat dari kondisi NTT yang memiliki potensi sinar matahari melimpah dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Ia melihat sekolah sebagai ruang strategis untuk menerapkan energi bersih karena selain dapat membantu efisiensi penggunaan listrik, penerapannya juga memberikan pengalaman langsung kepada pelajar mengenai pemanfaatan energi baru dan terbarukan.
“Solar School ini sebenarnya berangkat dari bagaimana kita melihat potensi matahari yang begitu besar di NTT, tetapi belum semuanya dimanfaatkan secara maksimal, terutama untuk kebutuhan sekolah,” ujar mantan Runner Up 4 Duta Genre NTT 2024 tersebut. Menurutnya, pemanfaatan energi surya di lingkungan pendidikan dapat menjadi contoh bahwa persoalan energi dan lingkungan bisa direspons melalui aksi nyata yang dimulai dari lingkungan terdekat.
Dalam proses pengembangannya, Solar School melibatkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari organisasi sekolah seperti OSIS dan MPK, komunitas Youth Voice Now Maumere, mitra Plan International Indonesia, hingga Pemerintah Kabupaten Sikka. Kolaborasi tersebut dilakukan melalui komunikasi, audiensi, serta dukungan berbagai pihak agar gagasan pemanfaatan energi matahari dapat diwujudkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Program tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman Aditya ketika mengikuti Parlemen Remaja DPR RI, khususnya dalam membahas persoalan lingkungan dan energi terbarukan. Melalui simulasi rapat dengar pendapat umum hingga sidang paripurna, peserta tidak hanya belajar menyampaikan aspirasi, tetapi juga memahami bagaimana sebuah persoalan publik dapat dibawa ke dalam proses pembahasan kebijakan, termasuk isu Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan.
“Di Parlemen Remaja kami tidak hanya berbicara tentang isu lingkungan, tetapi juga belajar bagaimana sebuah gagasan bisa dibawa ke dalam proses legislasi dan kemudian dikembalikan lagi menjadi aksi di daerah,” katanya. Bagi Aditya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa peran generasi muda tidak berhenti pada menyampaikan kritik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui solusi konkret sesuai kebutuhan masyarakat di daerah masing-masing.
Dalam pelaksanaannya, Solar School menghadapi sejumlah tantangan, terutama kebutuhan pendanaan karena bahan dan perangkat teknis untuk instalasi tenaga surya membutuhkan biaya yang cukup besar serta proses pengerjaan yang tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Bernardino menilai dukungan pemerintah, komunitas, sekolah, dan mitra lainnya menjadi penting agar penggalangan sumber daya dapat berjalan lebih cepat dan program dapat direalisasikan secara efektif.
Meski kini melanjutkan pendidikan di Malang, Aditya menyebut keberlanjutan Solar School tetap diupayakan di sekolah asalnya, SMA Katolik Frateran Maumere, dengan melibatkan adik-adik kelas dan komunitas terkait. Ia berharap Solar School tidak hanya menjadi proyek pemanfaatan energi matahari, tetapi berkembang menjadi gerakan pendidikan lingkungan yang mendorong pelajar NTT berani mengidentifikasi persoalan, membangun kolaborasi, dan menghadirkan solusi untuk masa depan energi yang lebih bersih. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....