Kisah Rinji Pacheco Menaklukkan Arena Kempo dan Menjalani Kuliah Keperawatan
- 29 Agt 2026 16:12 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Mahasiswi Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang, Rinji Maya Meiryana Pacheco, berhasil mengukir prestasi di bidang seni bela diri kempo dengan meraih Juara 1 Embu Solo Kyu dan Juara 3 Randori Putri Kelas 60 Kilogram Dewasa Mahasiswa. Prestasi tersebut diraih dalam ajang antar-dojo Nusa Tenggara Timur (NTT) memperebutkan Piala Wali Kota 2026 yang berlangsung di Kupang pada 19-21 Juni 2026.
Dalam wawancara bersama RRI pada Jumat, 28 Agustus 2026, bagi Rinji, prestasi tersebut menjadi pencapaian yang membanggakan sekaligus bukti bahwa aktivitas akademik dan olahraga dapat dijalankan secara beriringan. Mahasiswi asal Alor itu mengaku tetap memprioritaskan perkuliahan, sembari memanfaatkan waktu luang untuk menjalani latihan kempo secara rutin.
“Untuk sekarang ini saya masih fokus menjalani perkuliahan dan di sela-sela waktu saya masih tetap latihan kempo,” ujar Rinji. Kecintaannya terhadap kempo telah tumbuh sejak usia lima tahun, ketika dirinya diperkenalkan pada olahraga bela diri tersebut oleh sang ayah yang juga merupakan pelatih kempo.
Ia kemudian mengikuti pertandingan pertamanya pada 2014 saat duduk di kelas IV sekolah dasar dan berhasil meraih juara, sebuah pengalaman yang semakin memotivasinya untuk menekuni kempo hingga kini. Pada ajang tersebut, Rinji turun di dua nomor sekaligus, yakni Embu Solo dan Randori Putri Kelas 60 Kilogram Dewasa Mahasiswa. Pada nomor Embu Solo, atlet tampil secara perorangan dengan memperagakan teknik dan gerakan sesuai tingkatan sabuk, sehingga membutuhkan konsentrasi, ketelitian, serta penguasaan teknik yang matang.
“Tantangannya itu mungkin kita harus lebih fokus, konsentrasi, karena sendiri dan kalau kita melakukan kesalahan sedikit pasti nilainya akan berkurang,” katanya. Sementara pada nomor Randori, Rinji harus berhadapan langsung dengan lawan dalam pertandingan satu lawan satu hingga menentukan pemenang.
Ia mengaku justru lebih menyukai nomor yang mengandalkan pertarungan tersebut, meski hasil akhirnya hanya menempatkannya di posisi ketiga. “Kalau di Randori itu saya belajar bahwa saya harus tetap berlatih lagi dan kemarin itu harus menjadi evaluasi untuk diri saya supaya ke depannya saya harus memberikan yang terbaik,” tutur Rinji.
Persiapan menghadapi dua nomor pertandingan dilakukan dengan membagi waktu latihan secara khusus, termasuk latihan Embu dan Randori pada jadwal yang berbeda. Di tengah kesibukan perkuliahan dan praktik, Rinji tetap berusaha menjaga kondisi fisik, mental, keberanian, serta konsentrasi, dengan menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama ketika tugas akademik harus diselesaikan.
“Saya lebih dulu mendahulukan yang menjadi prioritas saya. Saya lebih fokus ke kuliah dulu, kalau latihan saya jadikan untuk waktu luang yang kosong,” ungkapnya. Ke depan, Rinji bertekad terus meningkatkan kemampuan, naik tingkatan sabuk, dan mengikuti lebih banyak kompetisi, termasuk menargetkan dapat berlaga pada Pekan Olahraga Nasional (PON).
Ia juga bercita-cita mengikuti jejak sang ayah dengan menjadi pelatih dan membuka dojo sendiri, sekaligus mengajak mahasiswa lainnya untuk tidak takut mencoba serta terus mengejar prestasi. “Jangan takut untuk mencoba dan jangan mudah menyerah. Tidak langsung harus hebat, tapi kita mau untuk belajar, konsisten dan tekun, karena kuliah tetap berjalan, prestasi juga harus dikejar,” tutup Rinji. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....