Menjadi Ruang Aman Bagi Penyintas Korban Gempa di NTT : Cerita Relawan Kemanusiaan

  • 26 Agt 2026 17:07 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Pengalaman menjadi relawan bencana tidak hanya tentang memberikan bantuan fisik, tetapi juga menghadirkan ruang aman bagi para penyintas untuk bercerita. Hal tersebut disampaikan pegiat isu kemanusiaan Merry Ximenes bersama anggota Forum Remaja PKBI NTT, Feri Dere, dalam perbincangan mengenai pendampingan penyintas bencana di NTT dalam segmen Talk Space pada Selasa, 25 Agustus 2026 di RRI Pro 2 Kupang.

Merry membagikan pengalamannya saat terlibat dalam respons kemanusiaan pascabencana Seroja di Sabu, NTT 2021, selama sekitar tiga hingga empat bulan. Ia mengatakan, kehadiran relawan PKBI saat itu membantu penyintas karena mereka memiliki ruang untuk berbagi cerita sekaligus memperoleh berbagai kebutuhan bantuan, sebagaimana pengalamannya ketika mendampingi masyarakat terdampak.

Sementara bagi Feri, pengalaman sebagai penyintas bencana sekaligus bagian dari Forum Remaja PKBI membuatnya memahami bahwa kebutuhan remaja tidak selalu berupa bantuan material. “Yang paling remaja butuhkan itu adalah ketika mereka sedang cemas atau takut dengan sesuatu, palingan yang mereka butuhkan hanya didengar dan didampingi ketika mereka sedang mengalami situasi yang mereka rasa berat,” ujarnya.

Merry menjelaskan, menjadi pendengar yang aman membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan secara penuh tanpa menghakimi atau buru-buru memberikan penilaian. Ia memperkenalkan pendekatan tiga langkah yang digunakan dalam pendampingan remaja, yakni look, listen, dan link, yaitu mengamati kondisi penyintas, mendengarkan ceritanya, kemudian menghubungkannya dengan tenaga profesional jika membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Pendekatan tersebut juga diterapkan dengan membangun rasa aman secara perlahan, bukan memaksa penyintas untuk menceritakan pengalaman traumatisnya. “Jangan pernah mendiagnosa orang karena kita lihat bahwa oh dia mungkin bingung, kita sudah bilang bahwa oh dia trauma nih karena rumahnya rusak; kita tidak bisa bilang begitu,” kata Merry.

Dalam pendampingan di lokasi bencana, relawan juga perlu memahami kelompok yang memiliki kebutuhan khusus, seperti perempuan, ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, remaja, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Merry menekankan pentingnya asesmen kebutuhan agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kondisi lapangan.

Sementara Feri mengingatkan bahwa relawan tidak boleh memaksa penyintas untuk bercerita karena mereka berhak menentukan kapan dan kepada siapa ingin membuka diri. Menurutnya, relawan mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi penyintas, tetapi kehadiran yang tulus dan penuh empati dapat membantu meringankan beban mereka.

“Kita mungkin tidak bisa menyelesaikan orang punya masalah, tetapi kita bisa hadir dengan ketulusan dan empati, mungkin kita bisa meringankan beban,” ujarnya, menegaskan bahwa menjadi pendengar yang baik berarti hadir, memberi ruang, dan tidak menghakimi. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....