Bangunan Tangguh Jadi Kunci Mitigasi Risiko Gempa di NTT

  • 23 Agt 2026 21:56 WIB
  •  Kupang
Poin Utama
  • Tenaga Ahli Sipil Prodi Teknik Sipil Unika, Ir. Rani Hendrikus, M.S., menegaskan kesiapsiagaan harus dilakukan sebelum bencana terjadi, bukan ketika gempa sudah melanda.
  • Penataan ulang lingkungan permukiman yang berbasis standar teknis akan memperbesar peluang keselamatan saat ancaman serupa terjadi di masa depan.
  • prinsip dasarnya relatif sederhana, yakni menggunakan bentuk bangunan yang sederhana, menyatukan seluruh elemen bangunan, serta memperkuat bagian bukaan seperti pintu dan jendela.
  • Menurut Ir. Rani, kunci utama ketahanan bangunan terletak pada pemahaman dasar mengenai kesederhanaan bentuk serta keterikatan antar-komponen struktur.
  • Sinergi antara edukasi teknik sederhana, pengawasan standar material, dan kepedulian masyarakat merupakan fondasi utama mewujudkan daerah yang tangguh bencana.

RRI.CO.ID, Kupang - Mitigasi bencana gempa bumi perlu menjadi perhatian serius masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama dalam memastikan bangunan rumah, sekolah, fasilitas umum, dan bangunan publik mampu menghadapi guncangan. Dalam wawancara kepada RRI pada Jumat, 21 agustus 2026, Tenaga Ahli Sipil Prodi Teknik Sipil Unika sekaligus ahli mitigasi bencana bidang bangunan tahan gempa dan struktur beton bertulang, Ir. Rani Hendrikus, M.S., menegaskan kesiapsiagaan harus dilakukan sebelum bencana terjadi, bukan ketika gempa sudah melanda.

Ir. Rani menjelaskan, NTT memiliki risiko kegempaan tinggi karena berada di kawasan Ring of Fire yang memiliki aktivitas tektonik sangat aktif. Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat harus mampu hidup berdampingan dengan ancaman bencana sekaligus memanfaatkan potensi alam yang dimiliki wilayah NTT.

Bencana alam tidak hanya menimbulkan guncangan secara fisik, melainkan juga meninggalkan trauma mendalam serta kerugian material bagi masyarakat terdampak. Namun, momentum paska-bencana seharunsya menjadi titik balik utama untuk mengevaluasi sekaligus memperbaiki kualitas konstruksi hunian masyarakat.

Penataan ulang lingkungan permukiman yang berbasis standar teknis akan memperbesar peluang keselamatan saat ancaman serupa terjadi di masa depan. Selain kekuatan gempa, kondisi tanah dan lokasi pembangunan turut menentukan tingkat kerusakan bangunan saat terjadi guncangan.

Ir. Rani mengingatkan adanya ancaman seperti longsor, rockfall, hingga likuifaksi di sejumlah wilayah, sehingga pemerintah perlu melakukan pemetaan kawasan yang aman maupun tidak layak untuk pembangunan. Dalam membangun rumah tahan gempa, Ir. Rani menyebut prinsip dasarnya relatif sederhana, yakni menggunakan bentuk bangunan yang sederhana, menyatukan seluruh elemen bangunan, serta memperkuat bagian bukaan seperti pintu dan jendela.

“Bangunan tahan gempa itu bukan bangunan anti kerusakan pada saat gempa, tapi kerusakan menjadi sangat terkendali dan menjamin keamanan dan keselamatan penghuninya,” urainya. Ia juga menekankan pentingnya kualitas material dan pengerjaan struktur beton bertulang sesuai standar, karena kesalahan pemasangan tulangan maupun detail konstruksi dapat memperbesar risiko keruntuhan.

“Kalau pemasangan pekerjaan di lapangan salah sama sekali tidak bisa dimaafkan,” tegasnya, seraya menjelaskan bahwa integritas kolom, balok, tulangan, sengkang, serta sambungan struktur harus diperhatikan secara tepat.

Kendati pemerintah telah menerbitkan regulasi mengenai standar bangunan tahan gempa, implementasi di tingkat tapak dinilai masih menghadapi tantangan ketat. Pola kerusakan struktur yang berulang dari peristiwa ke peristiwa mengindikasikan bahwa penerapan aturan belum sepenuhnya berjalan konsisten pada proyek hunian warga.

Menurut Ir. Rani, kunci utama ketahanan bangunan terletak pada pemahaman dasar mengenai kesederhanaan bentuk serta keterikatan antar-komponen struktur. "Prinsip pertama dari rumah tahan gempa adalah sederhana yang membuat bangunan kita berespon secara terukur saat terjadi guncangan," ungkap akademisi Unika tersebut.

Penerapan prinsip kesatuan (unity) dalam merancang hunian dapat dilakukan dengan memastikan seluruh dinding terikat secara kompak melalui sloof, kolom, dan ring balok. Kehadiran balok latei di atas ambang pintu serta jendela juga sangat krusial guna menahan konsentrasi retakan tembok agar tidak runtuh menimpa penghuni.

Selain integritas bentuk, kualitas adukan semen serta penggunaan spesifikasi pembesian yang tepat menjadi syarat mutlak dalam memperkuat struktur beton bertulang. Beliau menekankan: "Bangunan tahan gempa itu bukan bangunan anti kerusakan, tetapi kerusakannya menjadi sangat terkendali dan menjamin keselamatan penghuninya."

Di sisi lain, kelemahan konstruksi yang berujung pada keruntuhan bangunan sering kali dipicu oleh kekeliruan fatal dalam eksekusi pengerjaan detail di lapangan. Pemasangan jumlah tulangan yang kurang dari batas minimum serta jarak sengkang yang longgar pada area tumpuan akan menurunkan kapasitas skema penyerapan gaya gempa.

Oleh karena itu, penguatan kapasitas teknis bagi para tukang lokal menjadi agenda sosialisasi yang jauh lebih efektif dibandingkan sekadar membagikan cetak biru desain. "Hitung salah masih bisa dimaafkan, tetapi kalau pemasangan pengerjaan di lapangan salah, alam datang dia akan merubuhkan itu," tegas pakar struktur beton bertulang ini.

Guna memastikan ketahanan bencana yang berkelanjutan, pemerintah diharapkan menitikberatkan program pemulihan pada peningkatkan kapasitas SDM lokal serta pemberdayaan potensi daerah. Pelibatan masyarakat, kontraktor lokal, hingga institusi pendidikan dalam proses rekonstruksi akan membentuk budaya membangun yang ramah bencana di NTT.

Sinergi antara edukasi teknik sederhana, pengawasan standar material, dan kepedulian masyarakat merupakan fondasi utama mewujudkan daerah yang tangguh bencana. Menutup perbincangan, Ir. Rani Hendrikus memberikan penekanan khusus bagi pemerintah: "Saya sarankan kepada pemerintah untuk menggunakan seluruh sumber daya pembangunan kembali setelah bencana untuk kepentingan pembangunan kapasitas masyarakat lokal kita."

Menurutnya, keberadaan regulasi bangunan tahan gempa sebenarnya sudah menjadi modal penting, namun tantangannya terletak pada penerapan dan pengawasan di lapangan. Ia mendorong pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kapasitas tukang, tenaga konstruksi, konsultan, perguruan tinggi, dan masyarakat agar pengetahuan mengenai bangunan tahan gempa benar-benar menjadi budaya pembangunan.

Ia berharap proses pemulihan pascagempa di Flores dapat menjadi momentum untuk membangun NTT secara lebih tangguh dan berkelanjutan. “Membangun NTT berarti membangun bukan hanya gedungnya, bukan hanya jalannya, tapi juga masyarakatnya,” pungkasnya, dengan menekankan pentingnya pembangunan kapasitas masyarakat lokal agar NTT semakin siap menghadapi risiko bencana di masa mendatang. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....